Tuesday, October 15, 2013

kedurhakaan seorang istri

Diantara bentuk kedurhakaan seorang istri kepada suaminya, enggannya seorang istri untuk memenuhi hajat biologis suaminya. Keengganan seorang istri dalam melayani suaminya, lalu suami murka dan jengkel merupakan sebab para malaikat melaknat istri yang durhaka seperti ini. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, > إِذَا دَعَا الَّرُجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ "Jika seorang suami mengajak istrinya (berjimak) ke tempat tidur, lalu sang istri enggan, dan suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat akan melaknat sang istri sampai pagi". [HR. Al-Bukhoriy Kitab Bad'il Kholq (3237), dan Muslim dalam Kitab An-Nikah (1436)] Seorang suami saat ia butuh pelayanan biologis (jimak) dari istrinya, maka seorang istri tak boleh menolak hajat suaminya, bahkan ia harus berusaha sebisa mungkin memenuhi hajatnya, walaupun ia capek atau sibuk dengan suatu urusan. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا, وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ "Demi (Allah) Yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, seorang istri tak akan memenuhi hak Robb-nya sampai ia mau memenuhi hak suaminya. Walaupun suaminya meminta dirinya (untuk berjimak), sedang ia berada dalam sekedup, maka ia (istri) tak boleh menghalanginya". [HR. Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah (1853). Hadits ini dikuatkan oleh Al-Albaniy dalam Adab Az-Zifaf (hal. 211)] Istri / wanita /perempuan yang durhaka kepada suaminya -perhatikan hadits ini, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memberikan bimbingan kepada para wanita yang bersuami agar memperhatikan suaminya saat-saat ia dibutuhkan oleh suaminya. Sebab kebanyakan problema rumah tangga timbul dan berawal dari masalah kurangnya perhatian istri atau suami kepada kebutuhan biologis pasangannya, sehingga "solusinya" (baca: akibatnya) munculllah kemarahan, dan ketidakharmonisan rumah tangga. Syaikh Al-Albaniy-rahimahullah- berkata dalam Adab Az-Zifaf (hal. 210), "Jika wajib bagi seorang istri untuk mentaati suaminya dalam hal pemenuhan biologis (jimak), maka tentunya lebih wajib lagi baginya untuk mentaati suami dalam perkara yang lebih penting dari itu, seperti mendidik anak, memperbaiki (mengurusi) rumah tangga, dan sejenisnya diantara hak dan kewajibannya". Seorang wanita yang durhaka kepada suaminya, akan selalu dibenci oleh suaminya, bahkan ia akan dibenci oleh istri suaminya dari kalangan bidadari di surga. Istri bidadari ini akan marah. Saking marahnya, ia mendoakan kejelekan bagi wanita yang durhaka kepada suaminya.. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ : لاَ تُؤْذِيْهِ , قَاتَلَكِ اللهُ , فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكَ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا "Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari kalangan bidadari akan berkata, "Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah memusuhimu. Dia (sang suami) hanyalah tamu di sisimu; hampir saja ia akan meninggalkanmu menuju kepada kami". [HR. At-Tirmidziy Kitab Ar-Rodho' (1174), dan Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah (2014). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Adab Az-Zifaf (hal. 212)] Cukuplah beberapa hadits yang kami bacakan dan nukilkan kepada Anda tentang bahayanya seorang wanita melakukan kedurhakaan kepada suaminya, yakni tak mau taat kepada suami dalam perkara-perkara yang ma’ruf (boleh) menurut syari’at. Semoga wanita-wanita yang durhaka kepada suaminya mau kembali berbakti, dan bertaubat sebelum ajal menjemput. Pada hari itulah penyesalan tak lagi bermanfaat baginya.

Tuesday, August 20, 2013

SHOLAT SUNAH ISTIGHFAR UNTUK MENEMBUS REJEKI*SHOLAT SUNAH ISTIGHFAR UNTUK MENEMBUS REJEKI

SHOLAT SUNAH ISTIGHFAR UNTUK MENEMBUS REJEKI*SHOLAT SUNAH ISTIGHFAR UNTUK MENEMBUS REJEKI* Sebagaimana kita imani dan kita yakini bahwa Allah swt telah menjamin rejeki semua hamba-Nya. Hanya saja perlu kita ketahui juga bahwa di pintu rejeki itu ada hijab-hijab yang mesti kita robek. Bagaimana caranya? Tentu Allah swt telah mengajarkan caranya kepada Rasul-Nya. Sebagai tambahan ilmu, rejeki itu ada dua macam. Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata bahwa rejeki itu ada dua macam: Rejeki yang datang dan rejeki yang mesti didatangi. Berikut ini di antara tip-tip untuk menembus hijab pintu rejeki: Pertama: Melakukan shalat taubat (shalat Istighfar) setiap hari atau malam hari. Shalat ini bermanfaat untuk menghilangkan kegelisahan hati dan kekusutan pikiran. Shalat ini dapat membus hijab pintu rejeki yang sulit ditembus. Dalam kitab Mafâtihul Jinân disebutkan: “Jika Anda merasa sempit hidupnya, dan sulit menemukan solusi dalam persoalan yang Anda hadapi, maka jangan tinggalkan shalat ini.” Shalat ini diajarkan oleh Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa). Caranya sebagai berikut: Lakukan shalat dua rakaat, dengan niat memohon ampunan Allah swt. Setiap rakaat sesudah surat Fatihah membaca surat Al-Qadar. Sesudah membaca surat Al-Qadar membaca Istighfar (15 kali), yaitu اَسْـتَغْفِرُاللهَ Astaghfirullâh Aku mohon ampun kepada Allah Bacaan Istighfar ini juga dibaca 10 kali sesudah bacaan dalam setiap gerakan shalat yakni dalam: ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, duduk sebelum berdiri, dan sebelum tasyahhud (tahiyyat) dalam rakaat terakhir. Sehingga dalam dua rakaat jumlah bacaan Istighfar = 150. Kedua: Sesudah salam (selesai) dari shalat Istighfar, membaca Istighfar, yaitu Astaghfirullâh, sebanyak 71 kali. Saat membaca Istighfar usahakan benar-benar khusuk dan memfokuskan pikiran dan hati. Kalau belum bisa khusuk dan focus coba pejamkan mata. Khusuk dan memfokuskan pikiran dan hati sangat penting, sangat berpengaruh pada apa yang kita mohon kepada Allah swt . Di antara tanda-tanda khusuk dan focus adalah tidak paham terhadap apa yang didengar oleh telinga saat berzikir dan berdoa. Dengan khusuk dan fokus dapat meneteskan air mata. Inilah di antara tanda-tanda hati yang khusuk dan pikiran yang fokus. Ketiga: Sesudah membaca Istighfar 71 kali tersebut membaca salah satu Asma Allah yang maknanya berkait langsung dengan hajat. Misalnya untuk rejeki: Ya Allâh, yâ Razzâq (wahai Yang Maha Memberi rejeki), yâ Mughnî (wahai Yang Maha Memberi kekayaan). Jumlahnya sesuai dengan kemampuan Anda. Keempat: Sujud, dan sampaikan hajat kepada Allah swt dengan bahasa yang Anda pahami sehingga benar-benar menyentuh hati Anda.

taubat meninggalkan sholat apa harus mengqadha sholat tersebut

Taubat Meninggalkan Shalat, Apa Harus Mengadha' Semua Shalat Tersebut? Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya. Ulama berbeda pendapat tentang hukum orang muslim yang meninggalkan shalat dengan sengaja apabila dia tidak menentang kewajibannya. Sebagian ulama menghukuminya telah kafir dan keluar dari Islam (murtad). Dia diberi kesempatan taubat tiga hari, jika ia bertaubat maka ia menjadi muslim kembali. Jika tidak mau maka ia dibunuh sebagai hukuman atas kemurtadannya. Jenazahnya tak boleh dishalatkan dan dikuburkan di pekuburan kaum muslimin. Tak boleh dimintakan ampunan dan rahmat untuknya. Dan semua ketentuan atas orang murtad berlaku padanya dalam urusan warisan dan harta peninggalannya. Pendapat kedua, jika seseorang meninggalkan shalat dengan menentang kewajibannya (menyatakan shalat tidak wajib atasnya) maka ia telah kafir dan murtad (keluar) dari agama Islam. Ketentuan atasnya sebagaimana ketentuan di atas. Jika ia tidak menentang kewajiban shalat –misal: ia meninggalkannya karena malas- maka ia dihukumi sebagai pelaku dosa yang sangat besar, tapi ia tidak keluar dari agama Islam. Ia diberi kesempatan taubat tiga hari, jika taubat  makaAlhamdulillah. Jika tidak mau taubat, ia dibunuh sebagai ketentuan hukum had atas orang meninggalkan shalat bukan karena ia kafir. Meninggalkan Shalat Karena Lupa atau Tertidur Bagi orang yang meninggalkan shalat karena sebab udzur syar’i seperti lupa dan tertidur maka ia wajib mengadha’ shalat yang telah ditinggalkannya. Ini sudah menjadi kesepakatan para ulama berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, مَن نسيَ الصَّلاة، فليصلِّها إذا ذكرها؛ فإنَّ الله تعالى يقول: وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي  “Siapa yang lupa shalat (tidak shalat karena lupa), maka hendaknya ia mengerjakannya apabila ia telah ingat. Karena Allah Ta’ala berfirman, “Dan Tegakkanlah shalat untuk mengingatku”.” (HR. Muslim) Dan sabda beliau yang lain, مَنْ نَسِيَ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا “Siapa yang lupa terhadap satu shalat atau tertidur dari menjalankannya (pada waktunya) maka kafarah (tebusan)-nya adalah ia menjalankannya apabila telah mengingatnya.” (Muttafaq ‘Alaih) Di Shahih Muslim disebutkan, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ “Siapa lupa mengerjakan shalat, maka hendaknya ia mengerjakannya apabila ingat; tidak ada kafarah baginya kecuali itu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim; lafadz milik Muslim) Meninggalkan Shalat dengan Sengaja Karena Malas Kemudian bagaimana jika ada orang yang sudah terlanjur ia meninggalkan shalat dengan sengaja karena malas, lalu ia menyesali perbuatannya tersebut dan ingin taubat? Apakah ia wajib mengqadha’ semua shalat yang telah ditingalkannya? Orang yang telah meninggalkan shalat dengan sengaja karena malas dan bertaubat darinya maka pendapat yang lebih kuat –wallahu a’lam- ia tidak wajib mengqadha’ shalat-shalat yang telah ditinggalkannya tersebut. Inilah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Hazm, dan sebagian ulama madhab Syafi’iyah. Bahkan, jika tetap dikerjakan maka shalat tersebut tidak sah dan tak akan diterima karena dikerjakan di luar waktunya. Ia meninggalkan (mengakhirkan) dari shalat bukan karena udzur syar’i. Sehingga jika tetap dilakukan tidak akan diterima. Alasannya, perintah untuk melaksanakan shalat itu bukan perintah untuk mengqadha’nya. Maknanya, mengqadha’ shalat-shalat yang telah ditinggalkan dengan sengaja itu membutuhkan dalil (perintah) baru. Sementara pelakunya yang sudah taubat tidak lepas dari dua kondisi: Pertama, sebelumnya ia menjadi kafir karena meningalkan shalat dengan sengaja, lalu ia kembali kepada Islam kembali, maka Islamnya itu menutup dosa-dosa sebelumnya. Sehingga ia tidak dituntut untuk mengqadha’ shalat atau shaum. Kedua, kondisinya sebagai pelaku maksiat saja, bukan kafir. Jika ia telah taubat, maka taubatnya tersebut menutup dosa-dosa sebelumnya. Terlebih lagi, jika tetap wajib mengqadha’ shalat, maka bagaimana dengan orang yang telah meninggalkan shalat dengan sengaja berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Tentunya ini akan meyersulitkan orang dalam bertaubat darinya. Memang diakui, di sana ada pendapar Jumbur ulama yang tetap mewajibkan orang yang bertaubat dari meninggalkan shalat agar mengqadha’nya. Mereka berdalil dengan hadits-hadits qadha’ atas orang yang meningalkan shalat karena tertidur dan lupa. Wallahu Ta’ala A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Thursday, July 25, 2013

Saat manusia Meninggal, maka saat itulah dia bangun dari tidurnya Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu pernah berkata: ”Bilamana manusia menemui ajalnya, maka saat itulah dia bangun dari tidurnya”. Sungguh tepat ungkapan beliau ini. Sebab kelak di akhirat nanti manusia akan menyadari betapa menipunya pengalaman hidupnya sewaktu di dunia. Baik sewaktu di dunia ia menikmati kesenangan maupun menjalani penderitaan. Kesenangan dunia sungguh menipu. Penderitaan duniapun menipu. Saat manusia berada di alam akhirat barulah ia akan menyadari betapa sejatinya kehidupan di sana. Kesenangannya hakiki dan penderitaannya sejati. Surga bukanlah khayalan dan sekedar dongeng orang-orang tua di masa lalu. Begitu pula dengan neraka, ia bukan suatu mitos atau sekedar cerita-ceirta orang dahulu kala. Surga dan neraka adalah perkara hakiki, saudaraku. Sehingga Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan dengan deskripsi yang sangat kontras dan ekstrim mengenai betapa berbedanya tabiat pengalaman hidup di dunia yang menipu dengan kehidupan sejati akhirat. Perhatikanlah baik-baik hadits di bawah ini: “Pada hari kiamat didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia dari penghuni neraka. Lalu ia dicelupkan ke dalam neraka sejenak. Kemudian ia ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kebaikan, pernahkah kamu merasakan suatu kenikmatan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb.” Dan didatangkan orang yang paling menderita sewaktu hidup di dunia dari penghuni surga. Lalu ia dicelupkan ke dalam surga sejenak. Kemudian ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kesulitan, pernahkah kamu merasakan suatu kesengsaraan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb. Aku tidak pernah merasakan kesulitan apapun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan apapun.” (HR Muslim 5018) Mengapa orang pertama ketika Allah tanya menjawab bahwa ia tidak pernah melihat suatu kebaikan serta merasakan suatu kenikmatan, padahal ia adalah orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia dibandingkan segenap manusia lainnya? Jawabannya: karena Allah telah paksa dia merasakan derita sejati neraka -sejenak saja- cukup untuk membuat ingatannya akan segala kenikmatan palsu yang pernah ia alami sewaktu di dunia terhapus begitu saja dari ingatannya. Sebaliknya, mengapa orang kedua ketika Allah tanya menjawab bahwa ia tidak pernah melihat suatu kesulitan atau merasakan suatu kesengsaraan, padahal ia orang yang paling susah hidupnya sewaktu di dunia dibandingkan segenap manusia lainnya? Jawabannya: karena Allah telah izinkan dia merasakan kesenangan hakiki surga -sejenak saja- cukup untuk membuat ingatannya akan segala penderitaan palsu yang pernah ia alami sewaktu di dunia terhapus begitu saja dari ingatannya. Subhaanallah wa laa haula wa laa quwwata illa billah…!!! Pantas bila Allah gambarkan bahwa saat sudah dihadapkan dengan azab neraka orang-orang kafir bakal berharap mereka dapat menebus diri mereka dengan sebanyak apapun yang diperlukan, andai mereka sanggup. Tentunya pada saat itu mereka tidak sanggup dan tidak berdaya. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.” (QS Al-Maaidah ayat 36)

Monday, July 15, 2013

HARTA DAN KEKAYAAN DALAM AL-QURAN AL-KARIIM

HARTA DAN KEKAYAAN DALAM AL-QURAN AL-KARIIM Ada dua macam golongan yang dibenci dalam Islam dalam memandang harta dan kekayaan. Satu golongan mengatakan bahwasannya harta merupakan segala-galanya. Harta dianggap sebagai solusi problematika umat. Sehingga golongan tersebut menjadikan harta sebagai ilah (tuhan)nya. Mereka menganggap bahwasannya manusia diciptakan di dunia hanyalah untuk mengejar dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Adapun golongan lain menganggap bahwasannya manusia “tidak butuh” harta. Mereka merasa dicukupkan atas aktifitasnya dalam cakupan ibadah mahdlalh saja, karena harta bagi mereka merupakan syaithan yang harus dihindari secara total dalam kehidupan dunia. Sehingga,….tidak jarang kehidupan mereka sangat tergantung pada orang lain. Hidup di atas sedekah pemberian orang lain. Mereka merasa tidak mempunyai waktu yang cukup untuk diluangkan mencari nafkah bagi istri, anak-anak, dan keluarganya. Dua golongan di atas adalah dua golongan yang salah dalam pandangan Islam. Lalu bagaimana sebenarnya Islam memandang tentang masalah harta ? Apakah harta akan didudukkan menjadi salah satu orientasi hidup atau dakwah ? atau………….harta dijadikan seperti singa ganas yang siap menerkam mangsa sehingga wajib bagi setiap orang untuk menghindarinya, bahkan membunuhnya ?? Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan (wasath). Mudah diucapkan, namun bagaimana implementasinya ?? Al-Qur’an telah memberi gambaran kepada kita bagaimana sikap pertengahan yang dimaksud. Seluruh Alam adalah Milik Allah yang Diciptakan untuk Manusia Al-Qur’an telah menjelaskan bahwasannya seluruh alam beserta isinya ini adalah milik Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya : أَلا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ أَلا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ ”Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya).” [QS. Yunus : 55]. أَلا إِنَّ لِلَّهِ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ وَمَا يَتَّبِعُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ شُرَكَاءَ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ “Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka-prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga” [QS. Yunus : 66]. Dan Allah ta’ala menciptakan semuanya itu untuk kepentingan manusia, sebagaimana firman-Nya : هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ”Dia-lah Allah, yang menjadikan segala sesuatu yang ada di bumi untuk kamu….” [QS. Al-Baqarah : 29]. Dan semua apa-apa yang diciptakan Allah ta’ala di alam ini untuk manusia merupakan rahmat dari-Nya yang diberikan kepada segenap umat manusia, sebagaimana firman-Nya : وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ”Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir” [QS. Al-Jaatsiyyah : 13]. Oleh karena penciptaan alam semesta dan seisinya ini sebagai rahmat yang Allah ta’ala diberikan kepada manusia, jangan sampai manusia menggunakannya dalam jalan-jalan kebathilan. Hal ini adalah sebagaimana firman-Nya : وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ ”Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil, dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” [QS. Al-Baqarah : 188]. Status Harta Bagi Manusia Di atas telah dijelaskan bahwasannya semua yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah ta’ala. Termasuk dalam hal ini adalah harta benda. Pada hakikatnya, manusia dikaruniai oleh Allah ta’ala harta benda adalah sebagai titipan dan amanah yang harus dipergunakan sebagaimana mestinya. Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya : آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ ”Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman diantara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar” [QS. Al-Hadid : 7]. Harta merupakan perhiasan dunia yang Allah ta’ala jadikan sebagai salah satu ujian keimanan/cobaan bagi manusia, sebagaimana firman-Nya : الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا ”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” [QS. Al-Kahfi : 46]. وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ ”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar” [QS. Al-Anfaal : 28]. Harta bukanlah tujuan, namun tidak lebih hanya sebagai salah satu sarana dan bekal untuk beribadah kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala telah berfirman dalam salah satu ayatnya : انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ”Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” [QS. At-Taubah : 41]. Selain QS. At-Taubah : 41 di atas, masih banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menempatkan harta sebagai salah satu wasilah dalam ibadah. Allah ta’ala memerintahkan shadaqah, infak, dan zakat; yang kesemuanya itu dengan menggunakan harta. Allah ta’ala telah mewajibkan haji bagi yang mampu. Itu pun juga menggunakan harta. Untuk mewujudkankannya, Allah ta’ala telah mewajibkan manusia untuk mencari nafkah yang berupa harta yang halal; yang dengan harta itu ia juga bisa menunaikan kewajibannya untuk memenuhi hak-hak istri, anak, dan keluarganya. Allah ta’ala telah berfirman : وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ”Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada Allah” [QS. Al-Qashshash : 73]. اعْمَلُوا آلَ دَاوُدَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ ”Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih” [QS. Sabaa’ : 13]. هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ ذَلُولا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ ”Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” [QS. Al-Mulk : 15]. Tentunya, semua perbuatan ma’ruf dan ibadah yang dilakukan oleh manusia hanya diharapkan untuk keridlaan Allah dan balasan kelak di negeri akhirat berupa kenikmatan Jannah (surga). Nikmat harta adalah nikmat yang harus disyukuri sebagaimana firman-Nya ta’ala : قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ”Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” [QS. Al-An’aam : 162]. وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ ”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan : Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” [QS. Ibrahim : 7]. Allah Telah Mengingatkan Manusia Agar Tidak Tamak terhadap Dunia dan Harta Allah ta’ala telah menciptakan manusia dalam tabiat cinta terhadap harta. Akan tetapi, Allah ta’ala mencela pada orang yang berlebihan mencintai harta hingga menyebabkan dirinya menjadi seorang yang bakhil, sombong, dan lupa terhadap Allah. Allah ta’ala telah berfirman mengenai hal tersebut : وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا ”Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan” [QS. Al-Fajr : 20]. إِنَّ الإنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ * وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ * وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ ”Dan sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya. Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya. Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta” [QS. Al-‘Aadiyaat : 6-8]. كَلا إِنَّ الإنْسَانَ لَيَطْغَى * أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى ”Ketahuilah ! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,karena melihat dirinya serba cukup” [QS. Al-‘Alaq : 6-7]. وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الأرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ ”Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi. Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat” [QS. Asy-Syuura : 27]. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi” [QS. Al-Munaafiquun : 9]. Cinta yang berlebihan terhadap harta menyebabkan dia lupa mati sampai dirinya dibungkus kain kafan dan dimasukkan ke liang lahad. Allah ta’ala telah berfirman : أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ * حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ * كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ * ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ * كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ * لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ * ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ * ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ”Bermegah-megahan telah melalikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul-yaqiin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” [QS. At-Takaatsur : 1-8]. وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ * الَّذِي جَمَعَ مَالا وَعَدَّدَهُ * يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ ”Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya” [QS. Al-Humazah : 1-3]. Mengapa Kita Menjadi Orang yang Miskin Harta ? Bagi orang-orang yang muslim, cobaan atas sempitnya rizki dan kekurangan harta dapat disebabkan oleh : 1. Hukuman/balasan atas perbuatan dosa dan maksiat yang ia kerjakan. Allah ta’ala telah berfirman : وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ ”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” [QS. Asy-Syuura : 30]. أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ”Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud) padahal telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada Perang Badar) kamu berkata : “Dari mana datangnya kekalahan ini?”. Katakanlah : “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri” [QS. Aali Imran : 165]. مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ ”Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih maka itu untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan” [QS. Al-Jaatsiyyah : 15]. مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ ”Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri. Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya” [QS. Fushshilat : 46]. 2. Sebagai ujian dan cobaan atas keimanannya. الم * أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ * وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ ”Alif Laam Miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka diniarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi ? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” [QS. Al-Ankabuut : 1-3]. وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” [QS. Al-Baqarah : 155]. وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ ”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar” [QS. Al-Anfaal : 28]. KESIMPULAN Sebenarnya masih banyak ayat-ayat lain yang menjelaskan tentang harta, kekayaan, kemanisan dunia, usaha, dan berbagai urusan muamalat lain di dalam Al-Qur’an. Namun setidaknya, dengan memperhatikan beberapa ayat yang telah disebutkan di atas kita dapat melihat posisi harta, kekayaan, dan segala kenikmatan dunia ini secara komprehensif dengan cara pandang yang shahih (benar) yaitu : 1. Semua dunia dan seisinya ini adalah milik Allah ta’ala yang Allah ciptakan untuk kepentingan manusia. Termasuk dalam hal ini adalah harta dan kekayaan. 2. Harta dan kekayaan merupakan salah satu wasilah/perantara dan pendukung untuk ibadah kita kepada Allah ta’ala. Karena ibadah kepada Allah merupakan tujuan diciptakannya jin dan manusia, sebagaimana firman-Nya : وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” [QS. Adz-Dzaariyyaat : 56]. 3. Manusia diciptakan dalam tabiat cinta kepada harta. Kecintaan terhadap harta dan kekayaan banyak membuat manusia ingkar kepada Allah ta’ala dan berbuat maksiat kepada-Nya, kecuali bagi mereka yang diberi petunjuk oleh Allah ta’ala. 4. Allah ta’ala telah banyak mencela dalam beberapa ayat-Nya tentang ketamakan manusia terhadap harta dan kekayaan. 5. Harta dan kekayaan merupakan salah satu ujian yang diberikan Allah ta’ala kepada manusia di dunia. 6. Allah ta’ala telah memerintahkan manusia untuk bekerja mencari harta secara tidak berlebih-lebihan, serta menggunakan harta sesuai dengan haknya. Wajib bagi manusia mencari harta yang halal dari usaha yang halal untuk mencari keridlaan Allah ta’ala dengan penuh kesungguhan, sebagaimana firman-Nya : قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ Katakanlah : “Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kesanggupanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula) . Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang yang dhalim itu tidak akan mendapat keberuntungan” [QS. Al-An’aam : 135]. 7. Manusia berkewajiban bersyukur kepada Allah ta’ala terhadap segala nikmat yang telah Allah ta’ala berikan, termasuk dalam hal ini adalah nikmat harta dan lapangnya rizki. 8. Manusia tidak diberikan beban melainkan apa yang dia sanggupi saja. Ia tidak boleh takalluf (terlalu membebani diri) dalam mencari harta sehingga berbuat yang haram dan melalaikan hak-hak Allah ta’ala. Allah ta’ala telah berfirman : وَلا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا وَلَدَيْنَا كِتَابٌ يَنْطِقُ بِالْحَقِّ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ “Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu Kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya” [QS. Al-Mukminuun : 62]. قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلالا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ Katakanlah : “Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal?”. Katakanlah : “Apakah Allah telah memberikan ijin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” [QS. Yunus : 59]. 9. Allah ta’ala tidak membebani manusia harus menjadi seorang yang kaya harta. Allah ta’ala hanya membebani manusia agar berusaha sesuai dengan kemampuan. Dan hasil itu adalah di tangan Allah. Allah ta’ala telah melapangkan dan menyempitkan rizki seorang sesuai dengan kehendak-Nya. Dan itu merupakan taqdir kauni, sebagaimana firman-Nya : أَوَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ”Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rizki dan menyempitkannya bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya ? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman” [QS. Az-Zumar : 52]. 10. Kedudukan harta dan kekayaan tidak boleh sejajar atau bahkan lebih tinggi dengan kedudukan iman dan ibadah kepada Allah. Hal itu sebagaimana yang disiratkan Allah ta’ala dalam ayat-Nya : الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا ”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” [QS. Al-Kahfi : 46]. 11. Hidup di dunia bukanlah hidup mencari harta. Hidup bukan pula untuk berfoya-foya dan bersenang-senang semata. Namun hidup adalah untuk beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya. 12. Terkait dengan nomor 11, dakwah yang kita lakukan pun tidak diorientasikan kepada dakwah mencari harta dan kekayaan. Namun dioreintasikan kepada dakwah memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata. Atau dengan kata lain, orientasi dakwah kita adalah menjadikan dakwah Tauhid sebagai fokus paling utama dan yang paling pertama. Itulah misi utama dakwah para Nabi dan Rasul, sebagaimana firman-Nya ta’ala : وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ”Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut” [QS. An-Nahl : 36]. 13. Allah ta’ala tidak mengancam manusia dengan siksa neraka karena miskin dan tidak punya harta. Allah hanya mengancam manusia akibat maksiat dan keingkaran yang mereka lakukan. Adapun kaya atau miskin lagi tidak punya harta merupakan salah satu dari banyak nikmat atau cobaan yang Allah berikan kepada manusia. Dan terakhir,……….saya ajak ikhwah semua merenungi dua ayat berikut : وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” [QS. Al-A’raaf : 96]. وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridlai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” [QS. An-Nuur : 55]. Dua ayat di atas menjelaskan janji Allah akan kehidupan yang lebih baik di dunia, yaitu melimpahnya barakah dari langit dan bumi, menjadikan kaum muslimin berkuasa di muka bumi, serta menghilangkan ketakutan dan menjadikannya rasa aman. Semua itu akan terpenuhi dengan syarat beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya, melaksanakan semua perintah, dan menjauhi semua larangan-Nya. Itulah syaratnya. Sehingga,….perbaikan umat harus dimulai dari yang paling dasar, yaitu perbaikan mengenai masalah Tauhid dan menjauhkan mereka dari syirik. Selain itu, menjelaskan pada umat tentang kewajiban yang dibebankan kepada mereka dari syari’at Islam secara bertahap. Karena banyak saat ini umat Islam yang jahil terhadap agamanya sendiri, tidak menjalankan apa-apa yang dibebankan kepada mereka, dan mereka malah mengerjakan apa-apa yang dilarang atas mereka. Itulah yang menjadi tugas setiap muslimin yang mempunyai kemampuan untuk menyampaikannya. Yaitu menyampaikan aqidah Tauhid secara murni, melarang perbuatan syirik, menyampaikan Sunnah, dan melarang maksiat serta bid’ah. Adapun bila setelah itu Allah ta’ala memberikan kenikmatan kepada kita berupa beberapa kenikmatan dunia, itu semua merupakan kemurahan, karunia, dan rahmat Allah yang diberikan kepada makhluk-Nya di dunia. Namun, kita hendaknya tidak mengejar itu semata (yaitu kenikmatan dunia). Hanyalah keridlaan Allah dan balasan-Nya yang besar di akhirat kelak lah yang kita harapkan secara hakiki. Wallaahu a’lam

Thursday, June 27, 2013

akekat Shalat Yang Sebenarnya

Hakekat Shalat Yang Sebenarnya Nasehat Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf adalah salah satu ulama dengan kapasitas ilmu pengetahuan dhohir dan bathin yang diakui oleh ulama-ulama sezamanya. Al Arif Billah Habib Abdullah bin Idrus Al Aydrus menyebut beliau sebagai kholifah di masanya. Pada satu kesempatan di masjid Thoha, Hadramaut, pada tanggal 20 Syawal 1353 Hijriyah, beliau memberikan ceramah ilmiah bertemakan shalat. Beliau berkata, shalat merupakan sarana paling utama bagi manusia untuk dapat selalu berinteraksi dengan Penciptanya. Dahulu Nabi Zakariya a.s. menjadikan shalat sebagai fasilitas ketika beliau meminta kepada Allah untuk diberikan keturunan. Doa beliau dikabulkan dan mendapatkan seorang putra yaitu Nabi Yahya yang merupakan anugerah terbesar dalam hidupnya. Rasul SAW bersabda, ‘Hal yang paling membuatku senang adalah shalat’. Dengan shalat beliau merasakan suatu kenikmatan yang tiada banding, berdialog dengan Allah SWT. Dalam kitab Nashoih Dinniyah Habib Abdullah Alhaddad mengibaratkan shalat sebagaimana kepala pada manusia. Manusia mustahil dapat hidup tanpa kepala. Demikian halnya semua perbuatan baik manusia akan sia-sia jika tanpa disertai shalat. Shalat merupakan parameter diterima atau tidaknya amal perbuatan manusia. Rasul SAW bersabda, ‘Pertama yang diperhitungkan pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya diterima, maka seluruh amal sholehnya diterima, namun jika shalatnya ditolak, maka seluruh amal solehnya ditolak pula.’ Habib Ahmad kemudian bercerita, “Al-walid Sayid Alwi bin Abdurrahman Assegaf berkata, ‘Sesungguhnya pamanku Abdurrahman bin Ali berkata, jika kamu mempunyai hajat baik urusan dunia ataupun akhirat, maka memintalah pertolongan kepada Allah SWT dengan melaksanakan shalat. Bacalah akhir surat Thoha seusai shalat, Insya Allah dengan segala kebesaran-Nya akan dikabulkan hajat dan keinginanmu.’ Namun shalat kita pada masa sekarang ini tidaklah seperti shalat para salaf terdahulu yang penuh khusyu’ dan khidmat. Shalat kita merupakan shalat yang selalu dipenuhi kelalaian dan kealpaan, sehingga sangatlah kecil prosentase diterimanya. Orang-orang sufi terdahulu yang tidak diragukan lagi kedalaman ilmu pengetahuannya, menambahkan tiga rukun pada rukun-rukun shalat yang dikemukakan para ulama fiqih yaitu, khusuk atau tadabbur (hadirnya hati), khudu’(merendahkan diri kepada Allah) dan ikhlas. Firman Allah SWT: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” Penafsiran mereka dalam ayat ini adalah, ‘Janganlah kalian mendekati (mengerjakan) shalat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk oleh kesenangan dunia hingga pikiran kalian kosong dari dari segala urusan dunia.’ Sekarang kita saksikan orang-orang melaksanakan shalat namun hati mereka masih selalu tertuju pada urusan dunia, baik urusan jual beli maupun pekerjaan mereka. Akibatnya mereka lupa berapa rokaat yang telah mereka kerjakan, tidak mengetahui surat apa yang telah dibacakan imam. Mereka sama sekali tidak menghayati bacaan Alfatihah dan ayat-ayat yang lain dalam shalat, mereka tidak menyadari bahwa mereka berdiri di depan Maha Penguasa dan sedang berdialog dengan Maha Pencipta. Urusan-urusan duniawi benar-benar telah menguasai hati manusia. Orang yang memikirkan urusan dunia dalam shalat sama halnya dengan orang yang melumuri Al-Qur’an yang suci dengan khomer. Shalat yang seharusnya menjadi wadah yang suci telah mereka penuhi dengan kotoran-kotoran yang menjijikkan. Tanpa ada niat ikhlas yang merupakan ruh dari shalat, orang yang demikian diibaratkan oleh Imam Ghozali seperti seseorang yang menghadiahkan seonggok bangkai dengan kemasan rapi kepada seorang raja. Tentunya perbuatan tersebut bukannya menyenangkan hati raja melainkan membuat dia marah dan murka karena dianggap telah melecehkan kehormatan dan kebesarannya. Para salaf terdahulu memandang shalat sebagai hal yang sangat sakral dan agung. Mereka selalu berusaha melaksanakan dengan sesempurna mungkin. Hingga diantara mereka acapkali dihinggapi burung saat shalat karena sangat khusyuk dan tenangnya. Ada pula yang sampai tidak merasakan dahsyatnya gempa bumi yang meluluh lantakkan bangunan-bangunan di sekitarnya. Bahkan Imam Ali bin Husein sama sekali tak merasakan panasnya kobaran api yang membumi hanguskan rumah beliau saat beliau tenggelam dalam shalatnya. Saat ditanya beliau hanya berujar, ‘Panasnya api yang lain (api neraka) telah membuatku tak merasakan panasnya api dunia.’ Habib Ahmad kemudian memberikan tausiyah, ‘Rasul SAW bersabda, ‘Ada seorang lelaki di antara kamu, rambut di kedua pipinya telah memutih namun tidak diterima satu pun shalatnya.’ Ini menunjukkan bahwa tak ada satu shalat pun yang dia kerjakan dengan khusyuk. Padahal, mulai usia 15 tahun hingga enam puluh tahun sudah berapa kali dia mengerjakan shalat. Jika tidak ada satu shalat pun yang dia kerjakan dengan khusyuk, itu berarti hatinya benar-benar dikuasai urusan keduniaan. Ini adalah masalah kompleks di tengah masyarakat Islam yang harus disikapi dengan serius, terutama bagi para ulama dan penuntut ilmu. Adapun orang awam pada zaman sekarang sudah merasa cukup dengan shalat serba praktis seperti yang biasa mereka kerjakan. Bahkan di antara mereka ada yang mengeluh jika mendapati seorang imam shalat terlalu lama. Mereka lebih memilih imam yang lebih cepat dan ringkas sembari mengesampingkan unsur kekhusyukan yang sebenarnya esensial dalam shalat. Bagaimana dengan shalat kita?

Wednesday, June 19, 2013

Hakikat Iman

Hakikat Iman Di dalam kitab tafsir Ruhul Bayan disebutkan bahwa iman menurut syari’at adalah meyakini dengan hati, mengakui dengan lisan dan mengerjakan dengan amal perbuatan. Adapun pengertian Islam menurut syari’at adalah tunduk dan patuh. Maka setiap yang beriman berarti telah Islam, namun tidak setiap yang Islam berarti telah beriman. Adapun pengertian Islam menurut hakikat yaitu sebagaimana sabda Nabi SAW:  اَنْ تَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّاللهُ Menyaksikan tiada Tuhan selain Allah, sedangkan pengertian iman secara hakikat adalah sebagaimana firman Allah dalam surat al-Hadid ayat 16 : أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ أَمَنُواْ اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِاللهِ Belumlah seseorang itu dikatakan beriman sebelum hatinya itu dapat khusyuk mengingat Allah. Dari pengertian iman secara syari’at dan hakikat ini, imam Ghazali membagi iman manusia kepada tiga tingkatan: Iman tingkat pertama adalah imannya orang-orang awam yaitu imannya kebanyakan orang yang tidak berilmu. Mereka beriman karena taklid semata. Sebagai perumpamaan iman tingkat pertama ini, kalau kamu diberi tahu oleh orang yang sudah kamu uji kebenarannya dan kamu mengenal dia belum pernah berdusta serta kamu tidak merasa ragu atas ucapannya, maka hatimu akan puas dan tenang dengan berita orang tadi dengan semata-mata hanya mendengar saja. Ini adalah perumpamaan imannya orang-orang awam yang taklid. Mereka beriman setelah mendengar dari ibu bapak dan guru-guru mereka tentang adanya Allah dan Rasul-Nya dan kebenaran para Rasul itu beserta apa-apa yang dibawanya. Dan seperti apa yang mereka dengar itu, mereka menerimanya serta tidak terlintas di hati mereka adanya kesalahan-kesalahan dari apa yang dikatakan oleh orang tua dan guru-guru mereka, mereka merasa tenang dengannya, karena mereka berbaik sangka kepada bapak, ibu dan guru-guru mereka, sebab orang tua tidak mungkin mengajarkan yang slah kepada anak-anaknya, guru juga tidak mungkin mengajarkan yang salah kepada murid-muridnya. Karena kita percaya kepada orang tua dan kepada guru, maka kita pun beragama Islam. Iman yang semacam ini tidak jauh berbeda dengan imannya orang-orang Yahudi dan Nasrani yang juga merasa tenang dengan hal-hal yang mereka dengar dari ibu, bapak dan guru-guru mereka. Bedanya adalah mereka memperoleh ajaran yang salah dari orang tua dan guru-guru mereka, sedangkan orang-orang Islam mempercayai kebenaran itu bukan karena melihat kebenaran karena penyaksiannya terhadap Allah, tetapi karena mereka telah diberikan ajaran yang haq, yang benar. Selanjutnya iman tingkat kedua yaitu imannya orang-orang ahli Ilmu Kalam yaitu dimana mereka beriman cukup berdasarkan dalil aqli dan naqli, dan mereka merasa puas dengan itu. Iman tingkat kedua ini tidak jauh berbeda derajatnya dengan iman tingkat pertama. Sebagai contoh, apabila ada orang yang mengatakan kepadamu bahwa Zaid itu di rumah, kemudian kamu mendengar suaranya, maka bertambahlah keyakinanmu, karena suara itu menunjukkan adanya Zaid di rumah tersebut. Lalu hatinya menetapkan bahwa suara orang tersebut adalah suara si Zaid. Iman pada tingkat ini adalah iman yang bercampur baur dengan dalil dan kesalahan pun juga mungkin terjadi karena mungkin saja ada yang berusaha menirukan suara tadi, tetapi yang mendengarkan tadi merasa yakin dengan apa yang telah di dengarnya, karena ia tidak berprasangka buruk sama sekali dan ia tidak menduga ada maksud penipuan dan peniruan. Jadi imannya orang-orang ahli ilmu kalam masih terdapat kesalahan dan kekeliruan padanya. Adapun Iman tingkat ketiga yaitu imannya orang-orang ahli makrifat yang telah mempelajari tarekat. Mereka beriman kepada Allah dengan pembuktian melalui penyaksian kepada Allah. Sebagai perumpamaan: Apabila kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu akan melihat dan menyaksikan Zaid itu dengan pandangan mata kamu. Inilah makrifat yang sebenarnya dan inilah yang dikatakan iman yang sebenarnya. Karena mereka beriman dengan pembuktian melalui penyaksian mata hatinya, maka mustahil mereka terperosok ke jurang kesalahan. Dari ketiga tingkatan iman ini dapatlah kita ketahui bahwa hanya orang-orang ahli makrifatlah atau orang-orang ahli tarekatlah yang dikatakan benar-benar telah beriman kepada Allah. Adapun imannya orang-orang awam dan imannya orang-orang ahli ilmu kalam adalah beriman secara syari’at, namun secara hakikat mereka belum beriman kepada Allah, disebabkan karena ketiadaan ilmu dan ketidaktahuan mereka. Jadi hanya dengan mempelajari tarekatlah kita baru dapat lepas dari syirik khafi (syirik yang tersembunyi) dan syirik yang jali (syirik yang nyata). Kita patut bersyukur kepada Allah SWT karena kita tergolong kepada tingkatan iman yang ketiga yaitu imannya orang-orang ahli makrifat yang tentunya peringkat ini hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang telah mempelajari ilmu tarekat. Karena tanpa bertarekat mustahil Allah dapat dikenal. Namun mayoritas umat Islam saat ini tidak mau mempelajari ilmu tarekat atau ilmu hati, sehingga mereka tidak mengenal Tuhan yang mereka sembah dan sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata sebagaimana firman Allah dalam surat az-Zumar ayat 22 : فَوَيْلٌ لِلْقَسْيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِنْ ذِكْرِاللهِ أُلَئِكَ فِى ضَلَلٍ مُّبِيْنِ Artinya : Maka celakalah bagi orang yang hatinya tidak dapat mengingat Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata. Demikianlah celaan Allah terhadap orang-orang yang tidak dapat mengingat-Nya, yang kesemuanya itu disebabkan karena mereka tidak mempelajari soal hati. Namun kebanyakan umat Islam saat ini tidak tahu kalau mereka itu tidak tahu. Mereka menganggap bahwa amal ibadah mereka dapat diterima oleh Allah SWT, karena merasa bahwa tauhid mereka telah sempurna, padahal sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Tentu bagi kita yang telah memperoleh ilmu dan pengenalan kepada Allah, kita memiliki kewajiban untuk berdakwah dalam rangka melepaskan umat manusia dari kesesatan karena tidak mengenal Allah, dan di dalam melakukan dakwah tentunya harus dilaksanakan dengan arif dan bijaksana, sebagaimana firman Allah أُدْعُ اِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَة Artinya : Serulah kepada Tuhanmu dengan bijaksana dan nasehat yang baik. Dakwah bil hikmah adalah dakwah yang ditujukan kepada orang yang alim atau orang yang berilmu. Adapun dakwah dengan mauizatil hasanah adalah dakwah yang ditujukan kepada orang yang awam atau orang yang bodoh dengan cara memberikan nasehat yang baik. Ada dua jenis orang bodoh yang harus kita ketahui sebagai sasaran dakwah kita. Jenis pertama adalah orang bodoh yang mau belajar, maka tunjukilah ia, karena dia memang jauh dari panduan dan petunjuk sedang niatnya penuh untuk menambah ilmu pengetahuan dan taat melakukan ibadah. Jenis yang kedua adalah orang bodoh yang tidak tahu kalau dirinya tidak tahu dan tidak mau tahu. Maka janganlah dekati dia dan jangan membuang-buang waktu untuk mendakwahinya karena orang bodoh jenis kedua ini adalah syetan yang berwujud manusia. Pintarnya tidak dapat diturutkan, bodohnya tidak dapat ditunjukkan, ia lebih bodoh dari keledai, lebih bebal dari lembu. Tinggalkanlah ia dalam kebodohannya, sampai nanti Allah merobahnya. Kalau menghadapi orang bodoh saja sudah sulit, tentu lebih sulit lagi berdakwah kepada orang yang berilmu dikarenakan kesombongan yang ada pada dirinya karena telah merasa banyak memiliki ilmu. Orang alim seperti ini disebut alim tanggung, ilmunya ke atas tak sampai, ke bawah tak jejak, yang selalu berebut pengaruh di masyarakat dan berdakwah di sana-sini. Mereka bagaikan cendawan yang tumbuh menonjol di sana-sini sambil membusungkan dada dengan banyaknya ilmu yang tak bersari. Sungguh sedih dan kasihan kita melihat orang yang seperti ini. Disangka emas rupanya mentasi. Maka ajaklah mereka ini untuk mengenal Allah dengan cara yang bijaksana karena mereka terhijab oleh ilmu yang mereka miliki.

Tuesday, June 18, 2013

bisnis online tanpa modal

Bisnis obline tanpa modal...dan bener-bener membayar anda... Bisnis online yang paling BOOMING tanpa modal sepeserpun RESIKO 0% Terbukti, hanya dlm waktu 132 hari, member telah lebih dari 140.970 orang 100% Gratis 100% Profit.. Proses pencairan super cepat.. Sekali click, dollar langsung mendarat di PM/rekening bank anda.. Bisa dicairkan ke bank lokal atau ditukar dalam bentuk pulsa.. Bener-bener profit!! Ribuan member sudah.dibayar.. Sekarang giliran Anda!! jangan ragu untuk bergabung! dijamin gratis dan hasilnya fantastis.. Join now!! http://indoboclub.com/?ref=nadhiifrayyaa Dahsyat : Mempunyai 2 sistem utama: Plan GRATIS & Plan INVESTASI - Withdrawal bisa ke PM, Bank Lokal, dan Pulsa - Web semakin AMAN dengan HTTPS/SSL 256 bit - Komunikasi langsung dgn Admin via SMS/Call/FB - Invest minimal $0.5 via PM, EgoPay, Payza, & Bank Lokal - Profit 2% x 100 hari + Profit extra - Compound minimal $0.5 - WD INSTANT ke PM minimal $0.02 (cuma butuh waktu 3 detik) - WD ke Bank Lokal minimal $6 (kurs $1 = Rp 9.700) - WD dgn Pulsa HP dengan harga dibawah standar pasar - Tersedia fitur IBC MOBILE, website versi HP

Ketika Anak Bertanya Tentang Allah, Allah itu Siapa?

Utamanya pada masa emas 0-5 tahun, anak-anak menjalani hidup mereka dengan sebuah potensi menakjubkan, yaitu rasa ingin tahu yang besar. Seiring dengan waktu, potensi ini terus berkembang (Mudah-mudahan potensi ini tidak berakhir ketika dewasa dan malah berubah menjadi pribadi-pribadi “tak mau tahu” alias ignoran, hehehe). Nah, momen paling krusial yang akan dihadapi para orang tua adalah ketika anak bertanya tentang ALLAH. Berhati-hatilah dalam memberikan jawaban atas pertanyaan maha penting ini. Salah sedikit saja, bisa berarti kita menanam benih kesyirikan dalam diri buah hati kita. Nauzubillahi min zalik, ya… Berikut ini saya ketengahkan beberapa pertanyaan yang biasa anak-anak tanyakan pada orang tuanya: Tanya 1: “Bu, Allah itu apa sih?” Tanya 2: “Bu, Bentuk Allahitu seperti apa?” Tanya 3: “Bu, Kenapa kita gak bisa lihat Allah?” Tanya 4: “Bu, Allah itu ada di mana?” Tanya 5: “Bu, Kenapa kita harus nyembah Allah?” Tanya 1: “Bu, Allah itu apa sih?” Jawablah: “Nak, Allah itu Yang Menciptakan segala-galanya. Langit, bumi, laut, sungai, batu, kucing, cicak, kodok, burung, semuanya, termasuk menciptakan nenek, kakek, ayah, ibu, juga kamu.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis) Tanya 2: “Bu, bentuk Allah itu seperti apa?” Jangan jawab begini: “Bentuk Allah itu seperti anu ..ini..atau itu….” karena jawaban seperti itu pasti salah dan menyesatkan. Jawablah begini: “Adek tahu ‘kan, bentuk sungai, batu, kucing, kambing,..semuanya.. nah, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa pun yang pernah kamu lihat. Sebut saja bentuk apa pun, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa yang akan kamu sebutkan.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis) (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. Asy-Syura:11) (baca juga Melihat Tuhan) Tanya 3: “Bu, kenapa kita gak bisa lihat Allah?“ Jangan jawab begini: Karena Allah itu gaib, artinya barang atau sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Jawaban bahwa Allah itu gaib (semata), jelas bertentangan dengan ayat berikut ini. Al-Hadid (57) : 3 Dialah Yang Awal dan Yang Akhir; Yang Zahir dan Yang Batin ; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dikhawatirkan, imajinasi anak yang masih polos akan mempersamakan gaibnya Allah dengan hantu, jin, malaikat, bahkan peri dalam cerita dongeng. Bahwa dalam ilmu Tauhid dinyatakan bahwa Allah itu nyata senyata-nyatanya; lebih nyata daripada yang nyata, sudah tidak terbantahkan. Apalagi jika kita menggunakan diksi (pilihan kata) “barang” dan “sesuatu” yang ditujukan pada Allah. Bukankah sudah jelas dalil Surat Asy-Syura di atas bahwa Allah itu laysa kamitslihi syai’un; Allah itu bukan sesuatu; tidak sama dengan sesuatu; melainkan Pencipta segala sesuatu. Meskipun segala sesuatu berasal dari Zat-Sifat-Asma (Nama)-dan Af’al (Perbuatan) Allah, tetapi Diri Pribadi Allah itu tidak ber-Zat, tidak ber-Sifat, tidak ber-Asma, tidak ber-Af’al. Diri Pribadi Allah itu tidak ada yang tahu, bahkan Nabi Muhammad Saw. sekali pun. Hanya Allah yang tahu Diri Pribadi-Nya Sendiri dan tidak akan terungkap sampai akhir zaman di dunia dan di akhirat. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu Yang Meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampaui-Nya. (Q.S. An-Najm: 16-17) {ini tafsir dari seorang arif billah, bukan dari saya pribadi. Allahua’lam} Jawablah begini: “Mengapa kita tidak bisa melihat Allah?” Bisa kita jawab dengan balik bertanya padanya (sambil melatih adik comel berpikir retoris) “Adik bisakah nampak matahari yang terang itu langsung? Tidak ‘kan..karena mata kita bisa jadi buta. Nah,melihat matahari aja kita tak sanggup. Jadi,Bagimana kita mau melihat Pencipta matahari itu. Iya ‘kan?!” Atau bisa juga beri jawaban: “Adek, lihat langit yang luas dan ‘besar’ itu ‘kan? Yang kita lihat itu baru secuil dari bentuk langit yang sebenarnya. Adek gak bisa lihat ujung langit ‘kan?! Nah, kita juga gak bisa melihat Allah karena Allah itu Pencipta langit yang besar dan luas tadi. Itulah maksud kata Allahu Akbar waktu kita salat. Allah Mahabesar.” Bisa juga dengan simulasi sederhana seperti pernah saya ungkap di postingan “Melihat Tuhan”. Silakan hadapkan bawah telapak tangan Adek ke arah wajah. Bisa terlihat garis-garis tangan Adek ‘kan? Nah, kini dekatkan tangan sedekat-dekatnya ke mata Adek. Masih terlihat jelaskah jemari Sobat setelah itu? Kesimpulannya, kita tidak bisa melihat Allah karena Allah itu Mahabesar dan teramat dekat dengan kita. Meskipun demikian, tetapkan Allah itu ADA. “Dekat tidak bersekutu, jauh tidak ber-antara.” Tanya 4: “Bu, Allah itu ada di mana?” Jangan jawab begini: “Nak, Allah itu ada di atas..di langit..atau di surga atau di Arsy.” Jawaban seperti ini menyesatkan logika anak karena di luar angkasa tidak ada arah mata angin atas-bawah-kiri-kanan-depan-belakang. Lalu jika Allah ada di langit, apakah di bumi Allah tidak ada? Jika dikatakan di surga, berarti lebih besar surga daripada Allah…berarti prinsip Allahu Akbar itu bohong? (baca juga Ukuran Allahu Akbar) Dia bersemayam di atas ’Arsy. - Ayat ini adalah ayat mutasyabihat, yaitu ayat yang wajib dibelokkan tafsirnya. Kalau dalam pelajaran bahasa Indonesia, kita mengenal makna denotatif dan konotatif, nah.. ayat mutasyabihat ini tergolong makna yang konotatif. Juga jangan jawab begini: “Nak, Allah itu ada di mana-mana.” Dikhawatirkan anak akan otomatis berpikiran Allah itu banyak dan terbagi-bagi, seperti para freemason atau politeis Yunani Kuno. Jawablah begini: “Nak, Allah itu dekat dengan kita. Allah itu selalu ada di hati setiap orang yang saleh, termasuk di hati kamu, Sayang. Jadi, Allah selalu ada bersamamu di mana pun kamu berada.” (baca juga Mulai Saat Ini Jangan Sebut-sebut Lagi Yang Di Atas) “Qalbun mukmin baitullah”, ‘Hati seorang mukmin itu istana Allah.” (Hadis) Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.(Q.S. Al-Baqarah (2) : 186) Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.(Q.S. Al-Hadiid: 4) Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. (Q.S. Al-Baqarah (2) : 115) “Allah sering lho bicara sama kita..misalnya, kalau kamu teringat untuk bantu Ibu dan Ayah, tidak berantem sama kakak, adek atau teman, tidak malas belajar, tidak susah disuruh makan,..nah, itulah bisikan Allah untukmu, Sayang.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis) Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (Q.S. Al-Baqarah: 213) Tanya 5: “Bu, kenapa kita harus nyembah Allah?” Jangan jawab begini: “Karena kalau kamu tidak menyembah Allah, kamu akan dimasukkan ke neraka. Kalau kamu menyembah Allah, kamu akan dimasukkan ke surga.” Jawaban seperti ini akan membentuk paradigma (pola pikir) pamrih dalam beribadah kepada Allah bahkan menjadi benih syirik halus (khafi). Hal ini juga yang menyebabkan banyak orang menjadi ateis karena menurut akal mereka,”Masak sama Allah kayak dagang aja! Yang namanya Allah itu berarti butuh penyembahan! Allah kayak anak kecil aja, kalau diturutin maunya, surga; kalau gak diturutin, neraka!!” “Orang yang menyembah surga, ia mendambakan kenikmatannya, bukan mengharap Penciptanya. Orang yang menyembah neraka, ia takut kepada neraka, bukan takut kepada Penciptanya.” (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani) Jawablah begini: “Nak, kita menyembah Allah sebagai wujud bersyukur karena Allah telah memberikan banyak kebaikan dan kemudahan buat kita. Contohnya, Adek sekarang bisa bernapas menghirup udara bebas, gratis lagi.. kalau mesti bayar, ‘kan Ayah sama Ibu gak akan bisa bayar. Di sungai banyak ikan yang bisa kita pancing untuk makan, atau untuk dijadikan ikan hias di akuarium. Semua untuk kesenangan kita. Kalau Adek gak nyembah Allah, Adek yang rugi, bukan Allah. Misalnya, kalau Adek gak nurut sama ibu-bapak guru di sekolah, Adek sendiri yang rugi, nilai Adek jadi jelek. Isi rapor jadi kebakaran semua. Ibu-bapak guru tetap saja guru, biar pun kamu dan teman-temanmu gak nurut sama ibu-bapak guru.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis) Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Q.S. Al-Ankabut: 6) (baca juga Mengapa Allah Menciptakan Makhluk?) Katakan juga pada anak: “Adek mulai sekarang harus belajar cinta sama Allah, lebih daripada cinta sama Ayah-Ibu, ya?!” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis) “Kenapa, Bu?” “Karena suatu hari Ayah sama Ibu bisa meninggal dunia, sedangkan Allah tidak pernah mati. Nah, kalau suatu hari Ayah atau Ibu meninggal, kamu tidak boleh merasa kesepian karena Allah selalu ada untuk kamu. Nanti, Allah juga akan mendatangkan orang-orang baik yang sayang sama Adek seperti sayangnya Ayah sama Ibu. Misalnya, Paman, Bibi, atau para tetangga yang baik hati, juga teman-temanmu.” Dan mulai sekarang rajin-rajin belajar Iqra supaya nanti bisa mengaji Quran. Mengaji Quran artinya kita berbicara sama Allah. (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis). Wallahua’lam.

Thursday, June 13, 2013

M.R. Bawa : Nasihat untuk Anak

Bawa Muhaiyaddeen: Aku berikan cintaku untukmu, anakku. Apakah ada pertanyaan yang ingin engkau tanyakan, atau haruskah aku yang berbicara terlebih dahulu, dan kemudian kalian bisa mengajukan pertanyaan? Jika kalian memiliki pertanyaan, silahkan bertanya. Remaja: Saya memiliki seorang teman yang menginginkan saya pergi berkelana dengannya mengikuti sebuah band grup musik rock mengelilingi kota-kota. Saya katakan kepadanya bahwa saya sudah pernah mengikuti perjalanan seperti ini dan saya berpikir bahwa hal itu bukanlah suatu perbuatan yang baik untuk dilakukan. Saya berusaha menjelaskan bahwa perjalanan itu bukanlah sebuah ide yang baik, tetapi penjelasan saya tidak masuk akal baginya. Dia ingin mengetahui darimana saya mendapatkan ide dan penjelasan ini. Saya mengatakan padanya bahwa saya mengerti mereka dari beberapa hal yang telah engkau katakan kepadaku, tetapi dia benar-benar tidak bisa mengerti. Pada dasarnya, saya rasa adalah ide yang baik jika Bawa bisa memberikan ceramah mengenai beberapa hal yang berbahaya yang sedang terjadi di dunia saat ini. Beberapa dari anak-anak disekitar kita sekarang sedang berada pada umur dimana mereka ingin pergi keluar bergaul, dan mungkin mereka tidak cukup bijak untuk melindungi diri mereka dari hal-hal yang berbahaya. Mereka mungkin tidak cukup mengetahui tentang obat-obatan dan pengaruh yang ditimbulkan dari teman mereka. Bawa Muhaiyaddeen: Aku berikan cintaku untukmu, anakku. Tolong dengarkan baik-baik. Jika terdapat seekor kuda yang hidup di kota kemudian pergi meninggalkan kota dan menuju hutan belantara untuk bergabung dengan kuda liar, latihan yang telah diberikan kepadanya akan terlupakan, dan akan sangat sulit untuk ditangkap dan dilatih kembali. Ia akan terbiasa dengan liarnya hutan dan sifat-sifatnya akan berubah. Jika engkau ingin menangkapnya, engkau harus bersahabat dengannya dan membujuknya untuk kembali ke kota. Hal ini akan membutuhkan waktu yang lama, dan walaupun engkau bisa melakukannya, dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk melatihnya kembali. Bahkan bisa membahayakanmu ketika engkau berusaha untuk melatihnya kembali. Engkau bisa celaka. Engkau bahkan bisa jatuh dari kudanya dan mematahkan lengan atau punggungmu. Ketika engkau mencoba untuk melakukan sesuatu seperti ini, hal ini akan sangat berbahaya. Tetapi, jika engkau membeli kuda yang telah berada dikota sepanjang waktu, akan sangat mudah untuk ditunggangi. Engkau bahkan bisa melatihnya lebih jauh dan mengajarkan kearifan yang baik kepadanya. Hal ini akan membuatmu aman melanjutkan perjalananmu. Dengan cara yang sama dimana kuda kota yang tersesat dari jalan yang benar dan pergi menuju hutan belantara, terdapat juga manusia yang tersesat dari jalan yang benar. Sebagai hasilnya mereka menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Mencoba untuk menasehati mereka akan sangat berbahaya. Jadi engkau harus berpikir, “Manusia ini seperti kuda. Dia belum memperlajari apa-apa yang baik. Saya beruntung telah mengetahui hal ini pada diriku. Saya meninggalkan hidup yang liar dan datang ke kota. Sekarang saya mengerti apa-apa yang baik. Tetapi manusia kuda ini tetap belum mengerti, dan adalah tidak bijak bagi saya untuk mencoba menasehatinya. Hanya setelah dia mengalami kesulitan-kesulitan, kesedihan dan penderitaan yang telah saya alami. Hanya setelah singa-singa dan harimau dengan berwajah manusia datang menerkamnya dan dia harus berlari untuk menyelamatkan dirinya yang akan membawanya ke kota untuk dilatih. Sebaliknya dia tidak akan berusaha untuk belajar. “Hanya setelah dia menghadapi bahaya yang sama seperti yang telah engkau hadapi, baru ia akan berpikir untuk berubah. Sebaliknya ia tidak akan berubah. Jangan pernah mencoba untuk memberi nasehat kepada orang yang tidak memiliki kearifan. Engkau harus menghindar dari orang-orang seperti itu. Pelajarilah keadaan seseorang sebelum engkau berbicara kepadanya. Jika engkau tidak melakukan ini, dan engkau mencoba untuk menasehati seseorang, hasilnya akan berbahaya. Hal ini akan seperti melempar batu kepada sebuah gunung. Batu yang engkau lemparkan akan terpecah menjadi beberapa bagian dan memantul kembali menyakiti dirimu. Ingat, jika engkau mencoba menasehati seseorang yang tidak mempunyai kearifan, akibatnya akan mengenaimu kembali dan mengakibatkan bahaya yang besar kepadamu. Hal ini akan membuat musuh bagimu dan engkau akan dibenci. Jangan mencoba memberi makan singa dengan rumput. Jangan memberikan daging kepada kerbau. Mereka tidak akan memakannya. Dengan hal yang sama, jangan memberi nasehat kepada orang bodoh. Dia tidak akan menerimanya. Hanya memberikan kepada mereka yang berusaha untuk berubah. Hanya berikan kepada mereka yang memiliki kesadaran akan hal itu. Lalu ia akan mengambilnya dan menggunakan manfaat yang ada di dalamnya. Apakah engkau mengerti? Gunakan kearifanmu dengan cara seperti ini. Cara itu akan baik. Dalam sikap seperti ini seharusnya kalian menggunakan kearifan kalian. Remaja: Ini adalah bagian yang ingin saya dengar. Alasan utama saya membawa pertanyaan ini adalah agar Bawa bisa mengatakan kepada kami mengapa obat-obatan tidak baik bagi siapapun. Obat-obatan ini sangat menjamur sekarang, dan banyak kaula muda yang menggunakannya. Bisakah Bawa mengatakan kepada kami kenapa kami harus menghindari obat-obatan ini? Bawa Muhaiyaddeen: Baiklah, kita akan berbicara tentang hal itu. Aku berikan cintaku untukmu, cucuku, anakku, putra dan putriku. Apakah tujuan dari hidup kita? Anakku, alasan kita datang ke sini, tujuan kita di dalam kehidupan, adalah untuk belajar dan mengerti tentang rahasia Ayah kita* dan rahasia dari kerajaan surga. Ini adalah tujuan dari hidup. Sekarang, ketika kita membeli sebuah ladang, tujuan kita adalah untuk menghasilkan panen yang baik. Ini hanya karena kita percaya bahwa ladang tersebut akan membawa keuntungan kepada kita dan manfaat setelah kita membelinya. Terkadang kita membeli tanah untuk membangun rumah dan terkadang kita membeli tanah untuk bercocok tanam. Selain itu, tidak ada gunanya untuk membeli tanah. Kita harus membuatnya berguna. Kita harus mengetahui apakah tanahnya baik untuk membangun sebuah rumah ataukah untuk bercocok tanam. Sebuah rumah harus dibangun pada dataran tinggi sehingga air tidak akan membanjirinya. Ladang harus dibangun pada dataran rendah sehingga air akan tersedia. Anakku, engkau harus memikirkan dan mengerti akan hal ini. Jika tanahnya cocok untuk bercocok tanam, engkau harus mengetahui bagaimana cara untuk mengolahnya. Lalu, engkau harus menentukan benih apa yang akan tumbuh dengan baik di tanahnya. Engkau harus mengetahui bakteri apa yang ada di tanahnya. Engkau harus mengetahui serangga apa saja yang ada di sana. Engkau harus mengetahui berapa panjang akar dari benih yang akan tumbuh dan berapa jauh akar pohon yang akan tumbuh ke bawah. Engkau harus mengetahui dimana pohon yang paling besar akan ditanam dan dimana tanaman kecil akan ditanamkan. Engkau harus mengetahui dimana dan bagaimanakah cara menanamkan sebuah pohon yang menghasilkan buah. Jika terdapat bagian yang memiliki batu, beberapa pohon bisa ditanam di sana. Jika terdapat bagian yang memiliki tanah yang lunak, tanaman kecil seperti padi dan ubi-ubian bisa ditanam di sana. Semua hal ini harus dipertimbangkan untuk menghasilkan ladang yang berhasil. Sekarang, dengan cara yang sama kita bekerja keras untuk menyiapkan tanahnya dan membuatnya indah agar kita bisa mendapatkan manfaat darinya, kita juga harus bekerja keras untuk menyiapkan rumah dari kehidupan kita. Rumah dari kehidupan kita seperti ladang tersebut. Kita harus mengetahui dimana kita seharusnya membangun rumah bagi jiwa dan rumah bagi surga kita. Kita harus mengerti hal ini di dalam hati kita dan berusaha untuk membangun rumah tersebut. Kita harus memikirkan bahan apa yang kita butuhkan. Kita harus bertanya kepada diri kita, “Bagaimana kita seharusnya mengolah kehidupan kita?” Seperti apakah keadaan pikiran kita, hasrat kita, hati terdalam kita? Kita harus mengerti akal pikiran kita, yang sama seperti ladang, yang akan dilakukan untuk kita. Apakah yang akan dilakukan pikiran, hasrat, keangkuhan, karma, kemarahan, kekikiran, keterikatan, fanatisme, dan iri hati pada diri kita? Apakah yang akan dilakukan minuman keras, syahwat, pencurian, pembunuhan, dan dusta pada diri kita? Apakah yang akan dilakukan iri hati, keraguan, kecurigaan, berbangga diri, dan egoisme pada diri kita? Apakah yang akan dilakukan semua hal ini pada diri kita? Ini adalah serangga-serangga yang akan menghancurkan ladang kita dan memakan kehidupan kita. Sifat-sifat buruk ini adalah seperti serangga-serangga yang akan menghancurkan ladang yang baik di dalam kehidupan kita. Mereka akan menghancurkan rumah kita dan seluruh sifat-sifat baik kita. Seluruh kehidupan kita, seluruh bentuk diri kita, akan tidak berguna atau bermanfaat sama sekali. Tuhan telah memberikan rumah ini yang merupakan tubuh kita, dan di dalam tubuh ini adalah sebuah kekuatan besar. Di dalam kehidupan kita adalah sebuah kebenaran yang misterius. Kita perlu memikirkan tentang hal ini. Dengan hal yang sama ketika kita perlu untuk menganalisa dan mengerti tanahnya sebelum kita menanam di ladangnya, kita harus mengerti dan menganalisa hidup kita. Kita harus mengetahui hal-hal apa saja yang dapat menghancurkan hidup kita, dan kita harus mengetahui hal-hal apa saja yang dapat menggoda kita dan merusak pertimbangan kita. Sekarang, ketika engkau melihat pemabuk menelusuri jalan, amati bagaimana ia berjalan. Lihat bagaimana ia jalan sempoyongan dan menabrak semua orang yang dilewatinya. Sekarang lihat manusia yang menggunakan obat bius. Dia akan tertawa, dia akan menangis, dia akan mengangguk dengan lidahnya menjulur keluar, dan dia akan melakukan segala jenis perbuatan gila. Dorongan apapun yang ada di pikirannya, akan terwujud di luar. Pikiran seseorang yang menggunakan minuman keras dan obat bius seperti heroin dan mariyuana melihat hal yang sama. Apapun yang dipikirkannya ia akan melihatnya di luar. Jika engkau melihat seseorang yang menggunakan heroin, engkau akan melihat keadaannya. Pertama, dia akan memakainya. Lalu dia akan mengantuk dan mulai merasakan halusinasi. Kepalanya akan tertunduk dan dia akan jatuh tertidur dengan lidahnya menjulur keluar. Jika engkau mencoba untuk membangunkannya, dia akan mendorongmu. Dia tidak akan mampu untuk duduk. Orang-orang yang melihatnya akan mengetahui bahwa ia sedang terbius. Dalam keadaan ini, dia akan kehilangan rasa malunya dan kemuliaan dari hidupnya. Mariyuana adalah obat bius yang akan menumpulkan otak. Ketika seseorang menghisap obat bius, ia akan melihat di luar apapun yang di pikirkannya. Dia mungkin akan berpikir, “Hari ini aku akan bercinta dengan gadis ini. Gadis tersebut akan datang hari ini. Aku harus bertemu dengannya dan memeluknya hari ini.” Lalu, dia membayangkan melihatnya di hadapannya. Setiap orang yang lewat di depannya akan terlihat seperti gadis tersebut. Dia akan senyum kepada setiap orang yang dia lihat, berpikir bahwa dia sedang melihat gadis yang diinginkannya. Ketika efek dari obat bius mulai menghilang, dia akan menjadi sedih dan mulai menangis. Dia akan menangis, dia akan tertawa, dan nalarnya akan menjadi tumpul. Apapun yang dia pikirkan saat dia sedang menggunakan obat bius, itulah yang akan di alaminya. Jika ia menghisap obat bius dengan pikiran sedang memukul seseorang, dia akan pergi dan berkelahi dengan seseorang. Dalam keadaan ini dia mungkin berpikir, “Ayah dan ibuku tidak memperdulikanku. Lihat apa yang akan aku lakukan kepada mereka!” Lalu, dia mungkin akan pergi ke rumah mereka dan menghancurkan segala sesuatu. Obat bius ini akan menghancurkan hidupnya dan sifat-sifat baiknya. Obat bius juga akan menghancurkan kehormatan orangtua mereka di masyarakat. Obat bius seperti mariyuana akan menyebabkan begitu banyak kesulitan seperti ini. Pada zaman dahulu, ada beberapa pertapa yang mengisap mariyuana. Sepuluh ribu tahun yang lalu mereka menghisap tumbuhan ini di hutan. Mereka menghisapnya untuk tujuan tertentu. Hal itu memungkinkan mereka untuk melihat di dalam meditasi mereka tuhan apapun yang mereka pikirkan ketika menghisap obat biusnya. Mereka berfokus pada satu titik sebagai tuhan mereka. Mereka mungkin sedang memikirkan mengenai tuhan ular, tuhan sapi, atau tuhan harimau. Duduk di dalam meditasi mereka menghisap mariyuana dan kemudian mereka akan mulai melihat hanya tuhan yang mereka harapkan untuk dilihat. Mereka akan menjadi lupa akan sekitarnya. Mereka hanya fokus pada satu titik. Tetapi mereka yang menghisap obat bius pada saat ini memiliki begitu banyak jutaan pikiran, dan perbuatan mereka adalah tidak berguna dan tanpa tujuan. Setidaknya para pertapa di hutan melakukannya untuk mencapai suatu keadaan. Tetapi jika engkau menggunakan obat bius pada saat ini, hidupmu akan rusak. Ketika seseorang menggunakan heroin, dia tidak akan mampu berkerja. Jika dia melanjutkan untuk menggunakan obat bius ini, dia akan menumbuhkan penyakit dan tidak ada yang dapat merubahnya. Jika dia tidak memiliki uang untuk obat bius, dia akan mulai untuk mencuri atau bahkan membunuh. Dia akhirnya akan tergeletak di tanah seperti mayat. Dia bahkan tidak akan mengetahui apakah dia menggunakan pakaian atau tidak. Dia tidak akan mengenali istri dan anaknya. Dia tidak akan mengetahui apakah seseorang adalah pria atau wanita. Seluruh hidupnya akan berakhir. Ketika orang-orang melihatnya mereka akan berkata, “Oh, lihat orang mabuk itu di jalan.”. Mariyuana, heroin, kokain, arak, wiskey, bir, dan champagne, semua adalah zat-zat yang akan menghancurkan dan membunuh manusia. Zat-zat tersebut akan membunuh kearifannya, kebenarannya, dan keindahannya. Zat-zat tersebut akan menghancurkan keindahan pada wajahnya, keindahan dari hatinya, dan keindahan dari hidupnya. Zat-zat ini bisa merubah manusia menjadi orang gila. Beberapa di antaramu telah mengalami hal ini. Sudahkah engkau mengamati orangtuamu? Pada zaman sekarang, banyak orangtua yang menggunakan obat bius dan alkohol. Dalam keadaan ini apakah mereka memiliki pikiran atau pertimbangan akan pasangannya atau anak mereka? Tidak. Beberapa di antaramu telah mengalami hal ini, sudahkah? Jika engkau belajar dari pengalaman ini, engkau tidak akan menggunakan obat bius. Engkau seharusnya berpikir, “Oh, inilah yang dilakukan orangtuaku. Aku sebaiknya tidak mengulangi kesalahan mereka dan mengalami penderitaan yang sama, atau hidupku juga akan hancur.” Engkau harus memikirkannya dan belajar dari pengalamanmu. Amati apa yang terjadi ketika seseorang menggunakan heroin, mariyuana, atau kokain, atau pergi ke bar dan diskotik, atau menyewa pelacur, atau melakukan tarian rock and roll. Engkau harus melihat hal ini. Apakah yang terjadi di tempat ini? Apakah hasil dari setiap perbuatan ini? Apakah yang terjadi ketika seseorang berprilaku seperti ini? Bahaya apakah yang akan ditimbulkan dari perbuatan ini? Engkau harus benar-benar memikirkan hal ini. Seorang ibu bisa kehilangan seorang anak. Sang anak kehilangan seorang ibu. Tingkah laku dan sikap baik mereka telah hilang. Apakah perbedaan diantara binatang dan orang-orang yang berada dalam keadaan ini? Sudahkah engkau melihat bagaimana orang-orang menari di televisi dan cara mereka melompat-lompat seperti binatang? Sudahkah engkau melihat hal ini? Apakah ini menari? Hal itu lebih buruk daripada yang dilakukan binatang. Setidaknya bagian pribadi dari binatang tersebut tertutupi oleh bulu mereka. Bahkan dada mereka lebih rendah dari tubuh mereka sehingga tersembunyi. Tetapi orang-orang lebih buruk daripada binatang. Mereka bahkan tidak menutupi bagian belakang mereka. Manusia telah diberkati dengan empat kebajikan yaitu kesopanan, sikap hati-hati, kesungguhan hati, dan takut akan berbuat salah. Ketika engkau melakukan hal ini, kebajikanmu akan hilang. Sapi, kambing, dan binatang lainnya memiliki ekor yang menutupi bagian pribadi mereka. Tetapi manusia memperlihatkan semuanya dan memamerkan diri mereka sendiri. Sekarang, seekor sapi hanya memperlihatkan dirinya kepada pasangannya saja. Setiap beberapa tahun terdapat beberapa musim dimana sapi akan mengangkat ekornya dan mengijinkan sapi jantan untuk kawin dengannya. Jika sapi jantan mendekatinya pada waktu yang lain, dia akan menendangnya. Jika seekor sapi berada dalam keadaan ini, keadaan seperti apa yang seharusnya ada pada manusia yang begitu mulia? Tipe seperti apakah seharusnya seorang manusia? Kita perlu untuk memikirkan hal ini. Engkau adalah anak kecil. Engkau adalah anak yang cantik. Kita semua di sini sebagai anak laki-laki dan anak perempuan, sebagai saudara. Engkau adalah putra dan putriku, cucu-cucuku. Engkau harus berpikir. Apa hal yang memuliakan manusia, dan apa hal yang menghinakan manusia? Apa yang membuat hidup manusia mulia, dan apa yang membuat hidupnya hina? Engkau harus mengerti hal ini melalui pengalamanmu. Amati apa yang terjadi di sebuah rumah tangga ketika ayahnya adalah seorang pemabuk dan ibunya seorang yang baik, wanita yang damai. Pikirkan tentang berapa banyak kesulitan dan masalah yang harus diberikan seorang pria kepada istri dan anaknya ketika ia pergi ke tempat prostitusi. Atau jika wanita pergi dengan pria lain dan suaminya adalah orang yang baik, engkau bisa melihat kesulitan-kesulitan yang harus dialami anak dan suaminya. Engkau harus memikirkan tentang apa yang engkau amati dan alami. Engkau memiliki mata, engkau memiliki telinga, engkau memiliki hidung, dan engkau memiliki lidah untuk berbicara. Engkau juga memiliki qolbu untuk mengerti hal ini. Sudahkah engkau mengerti, dengan menggunakan indra ini dan qolbumu, apakah yang terjadi pada keluarga ini? Sudahkah engkau melihat perceraian, kesulitan-kesulitan, dan masalah yang mereka derita? Sudahkah engkau melihat alasan bagi penderitaan ini? Seorang pria pergi keluar dan minum. Dia pulang ke rumah larut malam terlambat dan berteriak dan memecahkan apapun. Atau bisa jadi sebaliknya. Seorang wanita pergi keluar dan tidak menjaga anaknya. Engkau harus memikirkan hal ini. Engkau harus mengerti hal ini. Mengerti hal ini adalah pembelajaran sejati. Obat-obatan, mariyuana, heroin, LSD, dan minuman memabukkan adalah penyebab penderitaan manusia. Mereka mengubah manusia menjadi anjing, hantu, keledai, kera, dan binatang lainnya. Hal inilah yang menghancurkan manusia. Ketika seseorang pergi bertempur dalam peperangan, dia diberikan minuman memabukkan ini. Mengapa? Karena dia akan menjadi seperti orang bodoh yang akan membabi-buta mengikuti apapun yang diperintahkan kepadanya. Dia akan diperintahkan untuk pergi dan membunuh, dan dia akan pergi dan membunuh. Tetapi, jika ia tidak menggunakan minuman memabukkan ini, dia akan memilik kemurahan hati, perasaan kasihan, dan belas kasih, dan tidak akan mampu melakukan perbuatan keji ini. Dia tidak akan mampu untuk melakukan dosa-dosa ini. Dia diberikan minuman memabukkan ini agar dia mengikuti perintah. Kadang-kadang sebuah perlombaan kuda diberikan obat-obatan dicampur dengan cairan ini untuk membuatnya berlari lebih cepat. Obat bius memiliki kekuatan untuk merubah kemampuan dari binatang dan manusia. Obat bius dapat merubah manusia dan membuatnya mudah mendapatkan kecelakaan. Obat-obatan ini akan menghancurkan seluruh hidupnya. Di dalam pengalamanmu mungkin engkau telah melihat orang mabuk, para penjudi, orang-orang yang pergi ke rumah bordil dan pergi berkeliling dengan wanita, dan orang-orang yang menggunakan obat bius. Sudahkan engkau melihat bagaimana menderitanya mereka dan mengalami begitu banyak kesulitan? Engkau harus belajar dari setiap pengalaman ini. Setiap anak harus mempelajari alasan kenapa keluarga berpisah. Hal ini sering terjadi karena minuman keras. Apa yang terjadi ketika seorang pria memulai untuk minum? Hal ini dikatakan di dalam buku May a Veeram, atau Dorongan dari ilusi, yang ketika seorang pria mabuk oleh alkohol, dia akan menjadikan pemikiran apapun yang ada di pikirannya. Jika dia berpikir, “Hari ini aku harus memberikan istriku pukulan yang baik,” dia akan mulai untuk bertengkar dengan istrinya. Di lain waktu seorang wanita akan lewat di depannya ketika dia sedang minum. Dia berpikir, “Oh, dia wanita yang menarik. Aku harus mendapatkannya.” Lalu dia akan mulai menggodanya. Jika wanita tersebut dalam keadaan yang sama, dia akan mengedipkan matanya dan mengatakan, “Oh, aku di sini, ikut denganku.” Lalu apakah yang akan terjadi? Dia akan menjadi pelacur. Dia akan berbicara dan tertawa untuk mengalihkan pria tersebut. Lalu wanita itu akan memutarnya dan mengambil apapun yang ada di dalam kantongnya. Dengan senyumnya dia akan memikatnya dan membuat pria tersebut berada di bawah pengaruhnya. Beberapa wanita seperti ini bahkan tidak akan memberikan pria tersebut seks yang diinginkannya. Mereka akan memberinya minum dan mencuri berapapun uang yang dia miliki. Beberapa wanita adalah pelacur dalam berbicara. Karena itu, mereka memikatmu dengan kata-kata mereka. Beberapa adalah pelacur menggunakan magic dan hipnotis, dan lainnya adalah pelacur seks. Di lain waktu ketika pria mulai minum kembali, dia akan memiliki keinginan seksual. Lalu, dia akan mengingat pelacur dan mulai mencuri apapun yang dilihatnya untuk membayar pelacurnya. Dia bahkan akan mencuri barang milik anaknya, pakaian-pakain istrinya, dan perhiasannya. Dia akan mengambil apapun yang terdapat di dalam rumah dan menjualnya kemudian memberikan uangnya kepada wanita yang diinginkannya. Jika pelacurnya tidak mendapatkan uang darinya, pelacur itu tidak akan memenuhi keinginannya. Setiap waktu ketika pria tersebut pergi bertemu pelacurnya dia akan bertanya untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Inilah yang terjadi. Pertama, pria mulai minum. Kemudian, nafsu muncul di dalam dirinya. Untuk memuaskan keinginannya, dia harus mencuri. Para pecandu obat-obatan juga melakukan hal ini. Para pemabuk dan pecandu obat-obatan keduanya pergi ke tempat prostitusi untuk melakukan hal yang sama. Jika pecandu tidak memiliki obat-obatan, dia harus mencuri. Dia bahkan akan mencuri dari ibunya sendiri. Dia akan mencuri perhiasan ibunya. Dia akan mencuri dari rumah lainnya. Dia akan melakukan apapun untuk membeli obat biusnya. Dia tidak akan memiliki rasa malu, tidak memiliki perasaan aib, tidak berpikir bagaimana dia sedang menghancurkan hidupnya, dan tidak berpikir bahwa dia mungkin akan dimasukkan ke dalam penjara. Apakah engkau mengerti? Ketika ketagihan, manusia tidak dapat hidup tanpa obatnya. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Jika dia tertangkap sedang mencuri sesuatu, dia bahkan akan mencoba membunuh orang yang menangkapnya. Dia akan melakukan pembunuhan agar bisa melarikan diri. Kemudian, dia akan lari. Dia akan mulai merasa takut untuk dilihat oleh siapapun. Dia akan takut jika polisi melihatnya. Dia akan lari ketakutan hingga polisi menangkapnya. Cepat atau lambat dia akan tertangkap, dan kemudian dia akan mulai berbohong. Saat ini, dia telah melakukan lima dosa dari mabuk-mabukan, nafsu jahat, pencurian, pembunuhan dan berbohong. Bahkan jika engkau adalah teman wanitanya atau ibunya, semua yang engkau percayakan kepadanya akan hilang. Engkau tidak akan melihatnya lagi. Dia akan mengkhianati kepercayaanmu. Dia akan mengabaikan temannya. Walaupun dia memiliki hubungan persahabatan di masa lalu, dia akan berbuat curang dan berbohong kepadanya. Ketika kebenaran keluar, dia akan berbohong lebih banyak lagi. Ketika dia dibawa ke pengadilan, dia tetap akan berbohong. Dia akan berusaha untuk menghindar dengan mengatakan kebohongan demi kebohongan. Kemudian, dia mungkin akan dimasukkan ke dalam penjara. Dia mungkin bisa dipenjarakan seumur hidup, atau dia mungkin akan digantung. Di dalam penjara, di akan memiliki mengalami penderitaan yang tidak terkatakan. Hanya setelah dia akan berpikir, “Perbuatan-perbuatan yang aku lakukan ini adalah salah.” Hanya setelah dia tertangkap dan dipenjaran baru dia akan memikirkan hal ini. Lalu, dia akan menangis. Dia akan melewati semua ini. Hanya setelah hidupnya telah terperangkap di dalam penjara, baru dia akan berhenti dan berpikir. Sebelum itu dia tidak akan berhenti. Inilah kenapa mabuk-mabukan, nafsu jahat, pencurian, pembunuhan, dan berbohong diketahui sebagai lima dosa yang jalan bersamaan. Seorang pemuda mulai tergoda untuk melakukan lima hal ini pada saat berumur sekitar empat belas tahun. Remaja putri mulai memiliki hubungan dengan hal ini ketika mereka berumur dua belas tahun. Pada saat-saat umur seperti inilah mereka mulai dekat dengan teman-teman mereka. Mereka memiliki teman baik, teman-teman yang menggunakan obat-obatan, teman-teman yang memiliki kearifan, dan teman-teman yang memiliki sifat-sifat baik. Mereka memperoleh berbagai macam teman. Masa dimana hidup manusia akan menjadi mulia atau hina adalah ditentukan pada saat umurnya dua puluh lima tahun. Pada masa ini dia akan diasosiakan dengan teman baik, teman buruk, teman-teman yang menggunakan obat-obatan, atau teman-teman yang minum alkohol. Teman-teman ini dapat mempengaruhi dan merubahnya pada saat itu. Jika pertemanannya buruk, mereka dapat merubahnya dan membuatnya buruk. Mereka dapat membuatnya untuk menggunakan obat-obatan seperti LSD, mariyuana, heroin, kokain. Mereka bisa membuatnya mencuri, mengatakan kebohongan, pergi ke prostitusi, pergi ke bar dan diskotik, dan menghabiskan waktu di taman. Teman-teman yang buruk akan mengajaknya untuk bergabung bersama mereka dan mempengaruhinya untuk melakukan hal-hal ini. Lalu hidupnya akan berakhir. Jika dia memiliki teman baik, teman tersebut akan melihat bahwa dia akan menuju pada jalan yang baik dan bergabung dengan kumpulan teman-teman yang baik. Sekarang, engkau mencoba menolong temanmu untuk menjadi baik, tetapi dia tidak menerima pertolonganmu, dan dia pergi menjauh. Untuk mengajak orang bergabung di jalan yang benar adalah sulit. Tetapi banyak orang yang mau untuk bergabung pada jalan yang buruk. Kebanyakan adalah buruk. Jika engkau mencoba untuk membawa seseorang menuju jalan yang baik adalah sangat sulit. Teman-teman yang baik berada dalam minoritas. Teman-teman yang buruk berada dalam mayoritas. Tetapi untuk mendapatkan teman yang baik adalah sangat sulit. Dibutuhkan waktu untuk menemukan mereka. Hal inilah yang terjadi ketika seseorang dalam masa pertumbuhan. Jika seseorang berubah seperti temannya yang buruk, seluruh hidupnya akan hancur. Ketika engkau melakukan keburukan-keburukan ini, seluruh hidupmu akan teracuni. Sifat-sifat buruk, kemarahan, menggunakan obat-obatan dan mabuk-mabukan, pikiran dan perbuatan buruk adalah kuman yang akan menghancurkan hidupmu. Engkau harus melepaskan diri dari hal-hal ini. Walaupun engkau sedang belajar di sekolahmu, engkau harus belajar dari pengalamanmu sendiri. Engkau telah melihat orang-orang tertawa dan menangis. Engkau telah melihat seseorang menjual barang miliknya, bahkan pakaiannya, untuk membeli obat-obatan. Engkau telah melihat orang mencuri barang orang lain dan menjualnya untuk membeli obat-obatan. Apakah engkau mengerti? Engkau telah melihat hal ini di sekelilingmu. Sudahkah engkau melihat hal-hal ini di sekolahmu? Bagaimana seseorang terjerumus ke dalam keadaan ini? Inilah yang harus dipikirkan remaja putra dan putri. Ketika seorang anak lahir, orang tuanya menginginkan anaknya agar sukses. Mereka terikat pada anaknya dan mereka menginginkan anaknya untuk hidup dengan baik. Sayangnya, beberapa orang tua itu sendiri berada dalam keadaan buruk, dan anaknya, mengamati hal ini, mungkin akan mengikuti langkah orangtuanya. Dalam hal ini, anak mungkin juga akan jatuh ke dalam keadaan buruk sebagaimana orang tuanya. Bahkan jika mereka memiliki orang tua yang baik, beberapa anak mungkin akan terpengaruhi oleh teman yang ada di sekolah dan merubahnya lebih buruk lagi. Jadi, terdapat anak-anak yang menjadi buruk karena keadaan orang tua mereka, dan terdapat anak-anak dengan orang tua yang baik yang menjadi sesat disebabkan oleh teman yang bergaul dengan mereka. Dengan hal yang sama dimana hidup kita dihancurkan oleh sifat-sifat iri hati, kebohongan, keraguan, balas dendam, kecurigaan, kemarahan, berbangga diri, keangkuhan, karma, ilusi, prasangka-prasangka pikiran, nafsu buruk, kebencian, kekikiran, fanatisme, serakah, cemburu, minuman keras, pencurian, pembunuhan, memisahkan karena warna kulit, dan perbedaan dari “aku” dan “kau” obat-obatan juga akan menghancurkan hidup kita. Obat bius dan sifat-sifat buruk pada dasarnya memiliki akibat yang sama. Tingkat kemuliaan yang bisa kita raih dalam hidup kita tidak akan pernah tercapai jika kita menyerahkan hidup kita kepada obat-obatan ini, alkohol, dan sifat-sifat buruk. Ketika engkau mengamati dengan teliti apa yang terjadi di dunia ini, engkau akan mengerti hal ini. Beberapa remaja akan datang kepadamu dan menangis, dan beberapa akan datang kepadamu dengan tertawa. Beberapa adalah pendiam dan menyimpan apa-apa bagi mereka sendiri. Beberapa mengeluh dan meratapi. Engkau harus memikirkan keadaan ini dan memutuskan keadaan yang mana seharusnya bagimu, dan menyadari bahwa engkau bisa merubah dan meningkatkan hidupmu dengan sifat-sifat baik, prilaku baik, dan tindakan yang benar. Engkau harus menghindari bagian yang buruk dan mencoba membawa hidupmu menuju keadaan yang baik. Aku berikan cintaku untukmu, cucuku, anakku, putra dan putriku. Sekarang, terdapat suatu masa yang di dalamnya engkau membangun kesuksesan atau kegagalan di dalam hidupmu. Ketika aku melihat benua-benua dari Amerika, Eropa, Asia, Africa dan Australia, aku melihat beberapa hal terjadi. Beberapa orang tua mendorong anak mereka, apakah dia laki-laki atau perempuan, untuk pergi keluar dan mencari teman-teman yang berlawanan jenis. Mereka berkata, “Sebelum kamu menikah, kamu harus harus memiliki pengalaman tentang hidup dan seks.” Orang tua mereka sendiri mengirim anaknya kepada dunia untuk mengetahui tentang hal ini. Mereka mengirim anaknya untuk menemukan teman-teman yang berlawanan jenis sehingga mereka memiliki pengalaman sebelum menikah. Aku telah melihat beberapa orang tua melakukan hal ini. Sebagai hasil dari didikan ini, banyak anak-anak yang menjadi gila. Beberapa adalah anak-anak yang baik tetapi sekarang mereka telah menjadi gila. Terdapat orang tua yang seperti ini. Jika anak mereka mencoba untuk belajar kearifan, pergi berjalan pada jalan yang baik, dan meningkatkan diri mereka, orang tua mereka tidak akan menyukainya dikarenakan oleh prasangka mereka. Mereka akan berkata, “Kamu bisa menjadi hippies, pergi kemanapun, lakukan apa yang kau inginkan, pergi ke prostitusi, kamu boleh menggunakan obat-obatan, tetapi kamu tidak boleh ikut terlibat dengan orang-orang dari agama dari ras lain.” Terdapat orang tua yang mengatakan hal ini. Aku mengatakan kepadamu mengenai hal-hal yang telah terjadi di tempat tertentu. Anak-anak ini menjadi hancur karena hal ini. Mereka tidak dapat pergi ke jalan yang baik. Dan ini disebabkan oleh orang tua tertentu. Jadi banyak anak-anak yang telah datang kemari dan mengatakannya kepadaku. Beberapa anak-anak ini sedang berada di rumah sakit jiwa saat ini akibat ulah orang tua mereka. Bagaimanapun, di beberapa negara asia, para orang tua tetap mengajarkan anak mereka tingkah laku dan sikap yang baik. Hingga anaknya melakukan pernikahan, orang tuanya menjaga mereka di rumah dan membesarkan mereka. Mereka memiliki batasan dan memastikan bahwa anaknya pulang ke rumah tepat waktu. Mereka membimbingnya dan melihat mereka pergi ke sekolah. Hingga mereka melakukan pernikahan, para orang tua melindungi dan membimbing mereka. Tetapi tempat seperti di Amerika, Eropa, dan Australia, para orang tua mendorong anak-anaknya untuk mencoba seks bahkan sebelum mereka menikah. Engkau tidak bisa menemukan kebahagiaan hidupmu di dalam cara ini. Jika seseorang menghidupi kehidupannya hanya dengan satu pasangan dan mengalami seks hanya dengan satu pasangannya tersebut, maka dia tidak akan mengetahui bagaimana kenikmatan lainnya. Jika seorang pria atau seorang wanita hanya memilih satu orang dan hanya mengalami seks dengan orang tersebut, lalu pria atau wanita itu tidak akan menginginkan orang lain. Mereka tidak akan mengetahui tentang kenikmatan atau penderitaan yang mungkin mereka alami dengan orang lain. Mereka hanya ingin tetap dengan satu pasangannya tersebut. Kendatipun terdapat banyak kebahagiaan, penderitaan dan kesulitan-kesulitan, mereka akan tetap setiap dengan pasangannya. Bagaimanapun, jika mereka memiliki banyak pengalaman, mereka berpikir, “Yang ini lebih baik dari yang itu, dan yang itu lebih baik dari yang ini. Yang ini lebih nikmat daripada yang itu, dan yang itu lebih nikmat daripada yang ini.” Sebagai hasilnya mereka tetap berganti-ganti dan menjadi bercerai. Orang seperti itu bisa memiliki anak dari seorang pria, dua anak dari pria lainnya, dan anak lainnya dari orang lain. Mereka bahkan akan berkata, “Aku tidak menginginkan anak ini.” Banyak masalah-masalah seperti itu dan kesulitan-kesulitan yang didapat dikarenakan hal ini. Jadi seorang wanita yang seharusnya hidup untuk seratus tahun dengan kecantikan menjadi tua ketika dia berumur dua puluh tahun. Ketika dia berumur dua puluh lima tahun, dia seperti seorang nenek-nenek. Lalu dia harus pergi ke dokter bedah plastik untuk menghilangkan kerutan yang ada di kulitnya. Tetapi bahkan dengan kulit yang baru, dia tetap seorang yang tua. Masa mudanya telah hilang. Masyarakat dan para orang tua di beberapa negara membesarkan anak-anak mereka untuk menjadi seperti ini. Pada umur empat belas atau lima belas tahun mereka mengirim anak mereka keluar rumah dan membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka suka. Tanpa bimbingan, anaknya mengikuti emosi mereka sendiri dan mengalami kesulitan yang besar hingga akhirnya mereka menjadi hancur. Terdapat suatu masa dimana di dalamnya anak-anak menjadi sesat dan pergi menuju jalan yang salah. Untuk remaja putri adalah diantara umur dua belas hingga dua puluh tahun. Untuk remaja putra adalah diantara umur empat belas hingga dua puluh lima tahun. Ini adalah masa dimana hidup mereka menjadi hancur, pendidikan mereka menjadi terganggu, hubungan mereka dengan orang tuanya menjadi hancur dan prinsip-prinsip dan nilai-nilai kehidupan yang mulia diabaikan. Diantara umur dua belas hingga dua puluh tahun, adalah masa dimana remaja putri menjadi terjerumus. Ini adalah masa dimana mereka akan mencari teman pria dan teman yang menggunakan obat-obatan. Ini adalah masa dimana mereka dapat mengikuti keinginan seksual dan bertingkah laku seperti prostitusi. Dalam periode ini, pendidikan mereka bisa hancur, mereka bisa keluar dari sekolah, dan kearifan mereka bisa hancur. Pada periode ini mereka akan tergoda untuk pergi ke pantai bersama teman prianya. Mereka mungkin akan pergi ke Atlantic City atau California dan berjalan setengah telanjang. Semua hal ini datang menggoda remaja putri ketika berumur diantara dua belas hingga dua puluh tahun. Akibatnya sekolah mereka, tingkah laku baik mereka, dan hidup mereka mungkin akan hancur. Para orang tua yang sangat perduli dengan anak mereka harus benar-benar konsentrasi dalam menjaga dan membimbing remaja putri mereka ketika berumur antar dua belas hingga dua puluh tahun. Adalah sangat penting untuk mengarahkan mereka pada umur ini. Hal yang sama, kehidupan dari remaja putra bisa hancur ketika berumur diantara empat belas hingga dua puluh lima tahun. Ini adalah saat-saat penting bagi remaja putra. Para orang tua harus menentukan batasan, menjaga mereka di rumah, dan melihat bagaimana mereka belajar dengan baik ketika berumur diantar empat belas hingga dua puluh tahun. Jika para orang tua melakukan hal ini, mereka akan mampu dengan baik dalam pendidikan mereka, meraih cita-cita yang tinggi, mendapatkan perkerjaan, dan meraih keadaan yang tinggi di dalam kehidupan. Adalah pada masa ini dimana para orang tua harus benar-benar menjaga anak mereka. Mereka harus membimbing mereka, memberikan mereka cinta, persahabatan, belas kasih dan pertolongan. Orang tua harus merangkul anak mereka dan mengajarkan mereka tingkah laku yang baik, sifat-sifat baik, dan kearifan. Setiap anak harus memikikan hal ini. Ini adalah saat-saat dimana engkau bisa tersesat dan hidupmu bisa menjadi hancur. Ini adalah saat-saat dimana teman bisa menjadi pengaruh yang buruk bagimu. Ini adalah saat-saat dimana bahkan gurumu bisa salah membimbingmu. Ini adalah saat-saat dimana engkau bisa berubah dan berakhir di jalanan dan menjadi tersesat. Setiap anak harus memikirkan hal ini. Jika engkau bisa mengatasi godaan pada masa ini, engkau akan memiliki batas yang kuat di dalam hidupmu. Tuhan akan memberikan tanda kepadamu dan berkata, “Ini adalah anak yang mulia. Anak ini tidak akan pernah terhinakan.” Engkau akan mendapatkan tanda itu dalam pendidikan dan pengetahuan, atau ilmu. Suatu saat ketika remaja putra berhati-hati dan mendapatkan tanda itu, dia tidak akan pernah tersesat. Dengan hal yang sama, ketika remaja putri mendapatkan tanda itu, engkau bisa melihatnya dalam keadaan mulia. Tidak ada siapapun yang bisa menyesatkannya atau menghancurkan hidupnya setelah ini. Dia harus mendapatkan tanda itu pada masa-masa tersebut. Jadi, engkau anakku harus berusaha untuk mendapatkan tanda ini. Hidupmu bisa berupa keberhasilan atau kehancuran. Jika engkau berjalan salah pada periode ini, seluruh hidupmu akan berjalan menurun. Kemudian engkau akan menjadi seperti mayat. Tidak akan ada perbedaan antara dirimu dan binatang. Setidaknya binatang memiliki kebebasan pada hidup mereka, tetapi engkau bahkan tidak akan memiliki kebebasan. Seekor kuda dapat memiliki beberapa kedamaian. Tetapi engkau tidak akan memiliki kedamaian itu di dalam hidupmu. Aku berikan cintaku untukmu, cucuku. Engkau harus memikirkan hal ini. Engkau harus memikirkan dan merenungkan hal ini. Berusahalah untuk membangun kelengkapan ini di dalam hidupmu. Engkau harus berusaha untuk hidup di dalam sebuah cara dimana kesempurnaan dari hidup tercipta lengkap. Jika engkau memberikannya kepada obat-obatan dan memperoleh teman-teman yang buruk dan sifat-sifat yang buruk, maka hidupmu akan terganggu dan semuanya akan hilang. Hidupmu akan menjadi neraka yang panjang. Seluruh hidupmu akan menjadi seperti iklan bagi neraka. Hidupmu itu sendiri akan menjadi papan iklan bagi nereka. Putra-putra dan putri-putri engkau harus memikirkan hal ini. Anak-anak, engkau harus memikirkan siapakah sahabatmu selama masa-masa penting ini. Sahabatmu adalah pendidikanmu. Hal ini akan menjadi temanmu yang akan menyelamatkan hidupmu. Pendidikanmu adalah teman yang akan selalu bersamamu hingga akhir waktu. Hingga engkau masuk ke dalam kubur, teman ini akan menemanimu. Kecuali bagi teman ini, tidak ada apapun yang akan menyelamatkan hidupmu. Pendidikan ini akan menjadi teman baikmu, temanmu yang terpercaya, temanmu yang setia dan penuh kasih sayang. Engkau tidak akan pernah menemukan teman yang lebih baik dari itu. Dalam masa-masa ini engkau harus memikirkan pendidikanmu sebagai temanmu yang terbaik. Tetapi, jika engkau meninggalkan teman ini, maka sifat-sifat jahat akan datang menjadi temanmu, dan hidupmu akan hancur. Ini pasti. Aku berikan cintaku untukmu, putra dan putriku, anak-anakku, cucuku. Pikirkan hal ini di dalam hidupmu, dan pikirkan bahwa pendidikan sebagai satu-satunya temanmu di dalam kehidupan dan sebagai sahabat di dalam hatimu. Belajarlah dengan baik dan bertingkah lakulah dengan sifat-sifat baik. Berusahalah untuk mencapai kejayaan di dalam hidupmu. Putriku, sebelum engkau berumur dua puluh tahun, hal ini harus benar-benar engkau teguhkan di dalam dirimu. Putraku, pelajaran ini harus engkah teguhkan di dalam dirimu selama periode umur diantara empat belas hingga dua puluh lima tahun. Kamu semua harus berusaha untuk memiliki ketetapan hati, usaha, keyakinan yang dibutuhkan untuk melakukan hal ini. Tetapi jika engkau membiarkan hal ini, engkau akan menghancurkan dirimu. Engkau harus benar-benar mengerti akan hal ini. Setiap anak-anak harus menyadari dengan penuh keyakinan bahwa ini adalah teman di dalam hidupmu. Salah satu cara untuk melakukan hal ini adalah pergi kepada orang bijak dan bersama dengannya untuk beberapa waktu. Pelajarilah kearifan, sifat-sifat baik, dan kejernihan dari dirinya. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan dan kehidupanmu. Hal ini akan menjadi barang-barangmu ketika engkau berjalan di dalam kehidupan. Hal ini akan menjadi barang yang sangat berharga bagi pikiranmu. Hal ini akan menjadi kekayaan dan harta karun bagi hatimu. Ketika engkau sedang bersedih atau bermasalah, dia akan memberimu nasehat dan ketenangan. Semua anak-anak, semua putra dan putri, harus berusaha untuk melakukan hal ini. Jika engkau mensia-siakan saat ini dan hanya bermain-main, hal ini pasti akan menghancurkan sisa dari hidupmu. Apakah engkau mengerti? Ini adalah waktu dimana engkau bisa tersesat dan menjadi terganggu. Ini adalah saat-saat dimana temanmu bisa memberikan pengaruh buruk kepadamu. Teman yang menggunakan obat-obatan, teman yang mengunakan mariyuana, LSD, percintaan, seks, teman mabuk-mabukan, teman-teman yang membengkokkan perasaan dan pertimbangan yang baik, teman-teman dari kekikiran, keterikatan, dan fanatisme, semua jutaan teman-teman ini akan datang dan berusaha untuk membawamu tersesat. Ini bisa menjadi masa-masa dimana hidupmu berubah menjadi sebuah kegagalan. Untuk itu, engkau harus menjadi anak dari kearifan dan menggunakan kepintaranmu. Engkau harus memperkuat sifat-sifat baik, berprilaku dengan benar, dan kemenangan muncul dari masa-masa ini di dalam hidupmu. Setelah periode ini, engkau akan mengetahui apa rahasia dari permainan ini. Kemudian, engkau akan dapat bermain dengan beberapa pengertian. Engkau akan mengetahui mana permainan yang benar. Jika engkau menyelesaikan pembelajaranmu selama periode ini, engkau bisa memainkan permainannya dengan pemahaman mana yang benar dan mana yang salah. Engkau akan mengetahui mana yang buruk dan mana yang baik, dan engkau akan mengetahui perbedaan antara terang dan gelap. Maka engkau tidak akan memainkan permainan yang salah, dan engkau tidak akan mengalami kesulitan-kesulitan lagi. Tetapi jika engkau menyerah dan berusaha untuk memainkan permainannya sekarang, hal itu akan salah. Semua anak-anak harus memikirkan hal ini. Anakku, aku berikan cintaku. Semua anak-anak harus memikirkan hal ini. Apa yang buruk? Apa yang baik? Apa yang jahat? Apa surga dan neraka? Apa sifat-sifat baik dan apa sifat-sifat buruk? Kita harus memikirkan hal ini. Engkau harus memikirkan apa itu kebenaran dan apa itu kebohongan dan jalani hidupmu dengan cara yang baik. Ambil apa yang telah aku katakan kepadamu saat ini ke dalam hatimu. Renungkan atas apa yang telah aku katakan dan bertingkah lakulah dengan benar di dalam hidupmu. Hal ini akan menguntungkanmu dan memberimu kemuliaan, harga diri dan keadaan yang tinggi di dalam kehidupan. Lalu engkau akan mengerti kekuatan yang akan diberikannya kepada hidupmu. Semoga Tuhan membantumu. Simpan ini di dalam hatimu. Engkau harus memiliki keimanan kepada Tuhan yang telah menciptakan kita. Engkau membutuhkan pertolongan dan rasa hormat dari orang tuamu. Jika engkau meraih martabat yang tinggi dalam sikap ini, engkau bahkan bisa untuk memperbaiki dan membantu orang tua yang tidak membesarkanmu dengan cara yang baik. Orang lain juga akan melihatmu, sifat-sifatmu yang mulia dan berusaha untuk meningkatkan diri mereka. Permata berharga yang menyinari mataku, engkau adalah yang hidup di dalam hatiku, engkau adalah yang lahir bersamaku, engkau adalah buah manis yang ada di dalam hatiku, Aku berikan cintaku untukmu semua. Apakah ini cukup? Apakah sebaiknya aku berbicara hal lainnya? Seekor sapi, seekor kambing, seekor gajah, setiap binatang melindungi dirinya sendiri. Mereka harus melindungi diri mereka dari singa-singa, harimau-harimau, dan banyak serangga beracun yang hidup di dalam hutan. Mereka juga harus menyelamatkan diri mereka sendiri dari ular besar yang hidup di hutan. Jika binatang ini datang ke hutan, semua binatang lainnya akan ketakutan. Bahkan bintang yang tidak takut terhadap binatang lainnya akan takut dengan manusia binatang ini, karena dia akan membunuh semuanya. Manusia binatang ini akan membunuh tanpa berpikir dua kali, tanpa merenungkan dan tanpa belas kasih. Maka dari itu, ketika manusia binatang pergi ke hutan, hewan yang sesungguhnya harus melarikan diri darinya. Terdapat begitu banyak jutaan manusia yang lebih buruk dari binatang yang paling buruk. Terdapat manusia binatang yang membunuh. Terdapat manusia binatang yang menyiksa orang lain. Terdapat manusia binatang yang memperkosa orang lain. Terdapat manusia binatang yang mencari balas dendam dan manusia binatang yang mencoba untuk menghancurkan kehidupan orang lain. Sebagaimana binatang di hutan telah mempelajari bagaimana melindungi diri mereka sendiri, kita juga sebagai manusia harus belajar untuk melindungi diri kita dengan menggunakan analisis kearifan kita. Jika kita harus hidup di tengah-tengah manusia binatang ini, kita harus belajar melindungi diri kita. Kita harus sangat hati-hati dan menggunakan tujuh dari tingkat kesadaran kita: persepsi, kesadaran, intelek, pertimbangan, kearifan, kearifan analis Ilahiah, dan kearifan cahaya Ilahi. Dengan perasaan dan kesadaran, kita harus meraih sifat-sifat tersebut yang akan memungkinkan kita untuk melindungi diri kita sendiri. Dengan menggunakan kearifan kita dan sifat-sifat baik, kita harus belajar untuk keluar dari binatang-bintangan ini. Jika kita tidak melakukan hal ini, maka dengan cara yang sama seperti manusia binatang yang pergi ke hutan dan membunuh segalanya, pikiran kita sendiri, hasrat buruk, dan sifat-sifat buruk akan membunuh kita. Hal-hal jahat ini adalah binatang-binatang yang ditemukan di dalam manusia binatang. Jika mereka memasuki diri kita, lalu hidup kita, sifat-sifat baik kita, kemuliaan kita, perbuatan baik kita, tingkah laku baik kita, cinta kita, kasih sayang kita, ampunan kita, dan sifat-sifat Tuhan dan keadilan akan hancur. Pikiran, yang merupakan binatang, hasrat buruk, yang merupakan binatang, dan binatang-binatang dari kekikiran dan kemarahan akan menghancurkan kita. Binatang-bintangan ini tidak memiliki kemurahan hati dan belas kasih. Mereka hanya memiliki sifat mementingkan diri sendiri. Dengan sangat hati-hati kita harus berusaha untuk keluar dari binatang jahat ini dan sifat-sifat jahat ini. Dengan kejernihan dan kearifan yang besar, kita harus menghindar dan melindungi diri kita. Kita harus mewujudkan usaha ini. Hanya dengan begitu kita bisa menemukan kemenangan di dalam hidup kita. Setiap anak-anak harus memikirkan hal ini. Kita harus berusaha untuk bertingkah laku baik di dalam kehidupan kita dan berjalan menuju jalan yang baik. Kita harus menemukan kejernihan ini di dalam kehidupan kita. Dengan kerendahan hatiku, dengan penuh cinta memohon kepada kalian semua untuk melakukan hal ini. Aku memohon kepadamu untuk tumbuh dan menjadi anak-anak yang bijak, baik, dan penuh kasih. Engkau harus menemukan kecerahan di dalam hidupmu Amin. Amin. As-salamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatahu. Maka jadilah. Maka jadilah. Semoga kedamaian dan ampunan Tuhan selalu bersamamu.